KH. Sya’roni AhmadiNgaji Tafsirramadan

Tawasul Cinta Kepada Allah Dalam Kajian Ramadlan Oleh KH Sya’roni Ahmadi

2 Mins read

SANTRIMENARA.COM, NGAJI TAFSIR – Ngaji Pasan 1438 H oleh KH M Sya’roni Ahmadi Kudus di Masjid Al Aqsha Menara Kudus pada Rabu (07/06/2017) mengkaji surat Ali Imran ayat 30-36. Tujuh ayat tersebut menjelaskan tentang wujud amal baik dan amal buruk besok di akhirat, tawassul cinta kepada Allah dan kisah Maryam ibu Nabi Isa. Berikut kajiannya:

Surat Ali Imran ayat 30

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ (30)

“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.

Besok di hari kiamat amal baik kita akan menjadi kendaraan kita, sedangkan amal buruk kita kelak akan menjadi makhluk bau dan menyeramkan yang minta gendong. Sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Al An’am ayat 31:

وَهُمْ يَحْمِلُونَ أَوْزَارَهُمْ عَلَى ظُهُورِهِمْ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ (31)

“…mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul itu.”

Surat Ali Imran ayat 31 – 32

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (31) قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ (32)

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.”

Ketika orang-orang kafir ditanya alasan mereka menyembah berhala, mereka menjawab:

Baca Juga  Ngaji Tafsir KH. Sya’roni Ahmadi; Penggunaan Sayyidina dalam Al Qur'an

ما نعبد الأصنام إلا حبا لله ليقربونا إلى الله

“Kita menyembah berhala hanya karena cinta kepada Allah untuk mendekatkan diri kepadaNya.”

Mereka salah dalam mendekatkan diri kepada Allah dengan menjadikan berhala sebagai perantara (wasilah). Tawasul cinta kepada Allah dengan menyembah berhala bukannya mendekatkan diri kepada Allah tapi justru akan menjauhkanNya. Taqarrub kepada Allah adalah dengan mengikuti Nabi Muhammad SAW. Apabila mereka mau mengikuti Nabi Muhammad SAW maka Allah akan mencintai mereka dengan memberi pahala dan mengampuni dosa-dosa mereka.

Surat Ali Imran ayat 33 – 36

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آَدَمَ وَنُوحًا وَآَلَ إِبْرَاهِيمَ وَآَلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ (33) ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (34) إِذْ قَالَتِ امْرَأَةُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (35) فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ (36)

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.”

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah telah memilih hamba-hambaNya yang baik, sejak dari Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, keluarga Imran mengalahkan manusia lain pada masanya. Mereka adalah para penerus generasi para Nabi dan Rasul pilihan Allah.

Baca Juga  Ngaji KH. Sya’roni Ahmadi Ramadan 1438 Dimulai

Dalam Al Qur’an Imran ada dua, Imran ayah Nabi Musa istrinya bernama Yuhanidh dan Imran ayah Maryam istrinya bernama Hanah. Pada ayat ini yang dimaksud keluarga Imran adalah keluarga dari Maryam ibu Nabi Isa yang bernama Hannah. Imran dan Zakariya adalah dua orang Nabi dan tokoh terkemuka Bani Israil. Saat itu kepengurusan masjid Al Aqsha dipegang oleh keduanya. Imran menjadi pimpinan dan Zakariya selaku wakilnya.

Sampai  suatu ketika, istri Imran bernazar, jika Allah memberikan anak kepada mereka, maka ia akan menjadikannya sebagai abdi masjid Al Aqsha Palestina dan membebaskannya  untuk beribadah  di jalan Allah. Namun ketika mengandung, Imran meninggal dunia dan ketika putranya itu lahir ternyata  perempuan, ia kemudian menjadi khawatir. Karena belum ada ceritanya, seorang gadis menjadi abdi masjid Al Aqsha. Oleh Hanah bayi yang lahir diberi nama Maryam dan memohon kepada Allah agar sang bayi dan keturunannya terjaga dari godaan setan. Doa Hanah kembali dikabulkan, Maryam dan putranya Isa ketika lahir tidak disentuh oleh setan sebab setiap bayi yang lahir pasti digoda setan dengan menyentuhnya sehingga menangis.

ما من مولود يولد إلا مسه الشيطان حين يولد فيستهل صارخا إلا مريم وابنها

“Tiada bayi yang lahir pasti setan akan menyentuhnya sehingga menjerit menangis kecuali maryam dan putranya.”

Hanah tetap menyerahkan putrinya kepada pengurus masjid Al Aqsha. Karena ketuanya yaitu Imran telah meninggal maka pengurus masjid bermusyawarah menentukan orang yang berhak merawat Maryam. Akhirnya diundi memakai rotan yang dicelupkan ke dalam air dan undian yang keluar atas nama Zakariya. (smc-777)

Komentar
Related posts
KH. Sya’roni AhmadiNgaji Tafsir

An Nisaa 66-74: Reaksi Munafiqin Menerima Perintah Perang

3 Mins read
Dibaca: 2.010 SANTRIMENARA.COM, NGAJI TAFSIR – Di bawah ini adalah catatan kecil pengajian rutin Tafsir Al Qur’an Edisi Ramadlan yang diasuh langsung… Share ke:Klik untuk berbagi pada Twitter(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru)
Ngaji Tafsir

An Nisaa 60-65: Berhakim Kepada Thaghut

3 Mins read
Dibaca: 2.222 SANTRIMENARA.COM, NGAJI TAFSIR – Di bawah ini adalah catatan kecil pengajian rutin Tafsir Al Qur’an Edisi Ramadlan yang diasuh langsung… Share ke:Klik untuk berbagi pada Twitter(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru)
KH. Sya’roni AhmadiNgaji TafsirramadanUncategorized

Ngaji Tafsir KH. Sya’roni Ahmadi; Kisah Batu dari Surga

2 Mins read
Dibaca: 2.358 SANTRIMENARA.COM, NGAJI TAFSIR. Pengajikan KH. Sya’roni Ahmadi bulan Ramadan 1438 H masuk pada hari terakhir yakni pada Sabtu 17 Juni… Share ke:Klik untuk berbagi pada Twitter(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru)

 

Silakan komentar