Refleksi Literasi Sejarah TBS dan Perjalanan Spiritualitas Ulama’ Refleksi Literasi Sejarah TBS dan Perjalanan Spiritualitas Ulama’
Dibaca: 581 Buku ini merupakan sebuah resensi kritis atas buku “KHR. Asnawi Satu Abad Qudsiyyah Jejak Kiprah Santri Menara”. Lahirnya buku ini yang dipelapori... Refleksi Literasi Sejarah TBS dan Perjalanan Spiritualitas Ulama’

Buku ini merupakan sebuah resensi kritis atas buku “KHR. Asnawi Satu Abad Qudsiyyah Jejak Kiprah Santri Menara”. Lahirnya buku ini yang dipelapori karena adanya poin- poin yang tercantum di dalam buku SAQ yang dianggap melenceng dan terbukti kontradiktif dengan fakta sejarah sehingga perlu ditelisik. Ulasan sejarah institusi lain tanpa adanya konfirmasi terlebih dahulu dan tabayun yang lebih lanjut kepada pihak yang berhak menimbulkan berbagai opini yang berujung pada fitnah, tuduhan, dan pencemaran nama baik yang tentunya sangat merugikan pihak yang bersangkutan khususnya Madrasah Tasywiquth- Thullab Salafiyah (TBS). Hal ini memicu timbulnya kesenjangan antara pihak PP. IKSAB alumni Madrasah TBS dengan IKAQ dan penulis buku yang bisa saja dibawa keranah hukum sebagai bentuk pencemaran nama baik.

Tak ada asap jika tak ada api. Sebuah kronologis yang cukup tragis dan memprihatinkan sehingga dengan terpaksa buku “Dalil Sejarah TBS” ini harus terbit sebagai konsekuensi tidak adanya klarifikasi oleh pihak IKAQ. Sangat disayangkan, berbagai negosiasi yang diberikan oleh pihak PP. IKSAB alumni Madrasah TBS kepada IKAQ dan penulis ini tidak diindahkan dan terkesan apatis. Buku ini merupakan ungkapan kekecewaan atas ketidakbertanggung jawaban pihak penulis buku SAQ sekaligus sebagai bentuk klarifikasi atas tuduhan- tuduhan liar terhadap Madrasah TBS dan masyayikh- masyayikh TBS yang sungguh menyayat hati.

Buku ini adalah literasi sejarah sekaligus refleksi perjalanan spiritualitas ulama’. Uniknya, buku ini tidak hanya menyajikan kisah secara kronologis dengan validitas data yang memiliki keakuratan sinkronik dan diakroniknya. Sederet klarifikasi dan militansi santri yang dibungkus rapi ini menyiratkan sehimpun teguran, peringatan dan nasihat khususnya untuk semua santri agar jangan sampai seperti kacang yang lupa akan kulitnya dengan kata lain setelah sukses lupa, atau mungkin sampai menebar hoaks dan tak tahu diri bahwa asalnya dulu dia tak tahu apa- apa tanpa adanya jasa dari gurunya. Dengan demikian pembaca akan menyadari tentang betapa besarnya jasa seorang masyayikh, yang sudah seharusnya kita selalu ta’dzimi dan kita jaga keharuman namanya.

Nilai- nilai keteladanan para masayikh khusunya KH. Ma’mun Ahmad yang dianggap biasa saja tidak ‘alim dalam buku SAQ ini justru di dalam buku “Dalil Sejarah TBS” tampak berjubel karna terlampau banyak akhlak atas kepribadian beliau yang menurut saya tidak kebanyakan orang mampu meneladaninya. Beliau tidak pernah berpikir kebendaan (materilistik ala kapitalisme). “Kabeh wes ana sing ngatur”, begitu pesan beliau kepda santri- santrinya (hal. 128). Disebutkan juga bahwa KH. Ma’mun Ahmad, yang dikenal sebagai guru Tauhid dan Tasawuf tegas, serta manunggal antara ilmu dan lakunya (hal. 131). Pembaca juga akan di ajak menyelami perjuangan dan perjalanan spiritual masayikh lainya dengan sifat- sifat mulianya. Kegigihan para masayikh dalam menegakkan jargon TBS “Memperbanyak Ilmu dan Mengurangi Kebodohan” yang tentunya seperti jalanan aspal yang tak selalu mulus, ada saja kerikil- kerikil yang selalu menghadang. Sehingga pembaca dijamin akan jatuh cinta atas kesederhanaan, kemulian akhlak, dan kealiman ilmu beliau- beliau.

Pesan didalam buku ini mudah tersampaikan dengan balutan emosi penulis yang mampu dirasakan oleh pembaca. Penulis mampu memberikan afirmasi penjabaran klarifikasi yang seketika mampu mematahkan asumsi dalam buku SAQ yang berpotensi menanamkan sugestif yang tidak sesuai dengan realita sejarah. Kerennya lagi, buku ini mengajarkan kepada pembaca agar berani bertanggung jawab atas apa yang sudah kita lakukan bukan hanya melempar batu sembunyi tangan apalagi seperti udang tak tahu di bungkuknya yaitu tidak menyadari kesalahannya sendiri. Memberikan pembelajaran untuk saling menghormati serta mencari jalan bersama tidak main hakim sendiri ketika ada suatu permasalahan serta meluruskan etos yang seringkali terkontaminasi dengan hasrat duniawi mengenai naik tinggi tanpa menjatuhkan orang lain.

Bahasa dan pembahasan yang menurut saya cukup dalam ini memang sangat bagus. Pembaca membutuhkan konsentrasi yang tinggi untuk memahami alur buku ini. Sehingga tidak semua kalangan seperti anak- anak mampu mengikuti menyelami buku ini secara mendalam dan keseluruhan.

Komentar

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Silakan komentar