opini

Ramadan di Tiongkok: ‘Jalur Sutra’ yang Menjelma Menjadi Surga Makanan

3 Mins read

Ini cerita pengalaman saya sebagai muslim di Tiongkok. Tapi, sebelumnya, saya ingin sedikit menarik garis sejarah dari wilayah yang disebut sebagai ‘jalur sutra’ ini. Hal itu  dikarenakan ditempat yang saya tempati ini, menjadi titik awal jalur sutra kuno 1000 tahun yang lalu. Jalur ini terkenal sebagai jalur perdagangan, baik antara Tiongkok, Arab dan Persia. Jalur ini terbentuk mulai dari dinasti Han Barat (206 SM – 9 M). Inilah awal mula peradaban perdagangan modern. Orang-orang dari berbagai etnis dan agama pun melebur dan singgah di kota ini. Xi’an, Tiongkok.

Xi’an terletak di Provinsi Shaanxi, Tiongkok. Kota yang ramah kepada pelajar dan pedagang luar negeri ini, dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai kota abadi. Selain kota yang berusia sangat lama, Xi’an juga menjelma sebagai kota beragam golongan. Xi’an dikenal dengan salah satu kota kuno di Tiongkok selain Nanjing, Beijing.

Dahulu kota Xi’an adalah salah satu kota pusat pemerintahan di Tiongkok oleh 13 Dinasti. Kalau kita berkunjung ke Xi’an pasti ingat film “The Mummy Tomb of The Dragon Emperor (2008)”. Film tersebut menceritakan kisah kaisar Qin Shihuang yang memerintah pada abad 246-208 SM. Qin Shihuang lahir pada tahun 259 SM, dia bertahta pada tahun 221 SM. Namun, akhirnya dinasti Qin digulingkan pada tahun 206 SM, tak lama kemudian dinasti Han bekuasa pada tahun 220 SM.

Dalam film tersebut, diketahui ada beberapa kebijakan Kaisar Qin yang dianggap agak nyeleneh. Kaisar Qin menyuruh abdinya untuk membangun patung prajurit. Kaisar Qin percaya, ribuan patung-patung tersebut akan melindungi mereka di akhirat nanti.

Pada tahun 1974, patung-patung tersebut di temukan oleh petani yang sedang mengali sumur. Patung prajurit itu berjumlah sekitar enam ribuan patung prajurit. Kemudian pada tahun 1987, patung-patung prajurit terakota itu dinyatakan sebagai situs warisan Dunia oleh UNESCO.

Baca Juga  Ramadan dan Perlawanan Paradigma Perempuan

Kalau kita berkunjung ke Xi’an pasti nggak aneh lagi bertemu orang berpeci dan berkerudung. Hal itu karena Xi’an menjadi salah satu kota di Tiongkok dengan populasi islam yang cukup banyak. Hampir sekitar 1 juta penduduk mayoritasnya adalah pemeluk Islam. Tentu, populasi itu dihasilkan dari hubungan dagang jalur sutra pada zaman dahulu oleh dua negara Islam, yaitu Arab dan Persia.

Agama Islam tumbuh di Xi’an dengan adanya Masjid Xi’an yang di bangun sekitar abad 6 M oleh suku Hui. Suku Hui adalah suku di Tiongkok yang memeluk Agama islam yang menyebar mulai Ningxia, Hainan, Yunnan dan Xi’an. Suku Hui sendiri adalah suku asli dari Tiongkok. Selain suku Hui, ada juga suku Han dan merupakan keturunan bangsa Arab pada era Dinasti Tang pada abad ke-7 M.

Pada saat berdagang melalui jalur sutra, pedagang dari Timur Tengah menetap lama di Tiongkok. Dari sanalah kemudian banyak yang menikah dengan Suku Hui. Di sinilah kita bisa membedakan muslim suku Hui dan muslim suku Han di Tiongkok. Kuncinya, perawakan suku Han lebih banyak bercorak Timur Tengah Xinjiang (Uighur, Kasgar, Urumuci). Namun berbeda dengan suku Hui, yang dari perawakannya sama dengan orang Tiongkok.

Keunikan lagi dari Muslim di Xi’an terletak pada peci yang mereka kenakan. Peci hitam yang selama ini saya hanya tahu di kenakan di Indonesia, ternyata disini juga mengenakannya. Selayaknya di Indonesia, peci hitam menjadi identitas mereka bagi yang beribadah di Masjid.

Di dekat Masjid Xian terdapat “Muslim Food Street”, sepanjang jalan akan kita temui deretan panjang penjaja makanan. Kebanyakan pedagang makanan yang berderet disana adalah suku Hui. Makanan yang mereka jual seperti La mian, Malatang, Roujiamo, Sate. Seperti namanya, Muslim Food Street sudah pasti dan terjamin semuanya halal.

Baca Juga  Sekolah Perilaku, Program Ideal di Bulan Ramadan

Muslim Food Street menjalar di berbagai persimpangan jalan Beiyumen, jalan Guangji, jalan Xiyangshi dan jalan Dapiyuan. Jika melihat di Indonesia, Muslim Food Street ini hampir sama dengan sekitaran Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Sepanjang jalan sambil mencari jajanan yang saya inginkan, bangunan-bangunan berarsitektur kuno menambah takjub suasana hati saya. Satu lagi yang menonjol yaitu, gerbang masuk area Muslim Food Street bernama Gerbang Hanguang yang didirikan pada dinasti Tang (618 – 907 M).

Meskipun sebagian orang asing seperti saya menilai Muslim Food Street tempat yang indah, atau lebih tepatnya sebagai surga kuliner. Namun penduduk Xi’an beberapa ada yang menyayangkan kalau hanya dibuat menjajakan makanan saja. Mungkin alasannya tempat ini adalah bukti nyata sejarah oanjang berabad-abad lalu. Di sinilah bukti Islam masuk di kota Xi’an dengan jalur damai kita patut percaya bahwa islam adalah agama yang Rahmatan lil ‘alamin dan sesuai dengan Firman Allah “ Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh Alam.” (QS,Al Anbiya :107).

Baca artikel menarik lainnya disini.

Komentar
1 posts

About author
Pemimpin Redaksi santrimenara.com, Dosen Hubungan Internasional di Universitas Wahid Hasyim Semarang.
Articles
Related posts
opini

Olimpiade Tokyo 2020: Cobaan Greysia Terbalas Emas

2 Mins read
Ujian Greysia semakin berat semenjak kakaknya meninggalkannya pada akhir tahun 2020, beberapa anggota keluarganya juga terpapar covid-19. Share ke:Klik untuk berbagi pada Twitter(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru)
esaiopini

Kesunahan Bagi Orang yang Berkurban, Hingga Jenis Tunggangan di Akhirat

2 Mins read
Dibaca: 81 Tidak sepenuhnya syari’at islam mengganti syari’at agama sebelumnya. Sebagian dari syari’at agama terdahulu ada yang dipermudah, diganti, bahkan dipersulit. Semua… Share ke:Klik untuk berbagi pada Twitter(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru)
opini

Stereotip Orang Kudus yang Kadang Di Luar Nalar

2 Mins read
Konsekuensi ini oleh beberapa orang diamini sebagai fakta yang pernah mereka alami. Share ke:Klik untuk berbagi pada Twitter(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru)

 

Silakan komentar