beritadiskusikomunitas

Membumikan Tasawuf Nusantara dan Meneladani Kiai Ihsan Jampes

2 Mins read

SantriMenara.Com – Surabaya, (14/6) Komunitas Baca Rakyat (KOBAR) pada momen bulan suci Ramadhan kali ini berkesempatan menggelar kegiatan bedah buku, Tasawuf Nusantara Kiai Ihsan Jampes; Menggapai Jalan Ma’rifat, Menjaga Harmoni Umat karya Dr. Wasid mansyur, SS., M.Fil.I yang dikemas dalam acara Tadarus Ilmiah dengan tajuk “Pesona Tasawuf Nusantara” ini dilangsungkan di Caffe Maqha UIN Sunan Ampel Surabaya.

Tidak ketinggalan, kegiatan yang terselenggara atas kerjasama Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) PCNU Kota Surabaya, Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU Jatim, dan Mahasiswa Ahli Thariqoh Al-Mu’tabaroh an-Nahdliyah (MATAN) Kota Surabaya yang dimulai pukul 15.00 WIB dihadiri 50 peserta dari berbagai kalangan mulai dari mahasiswa, dosen, dan masyarakat umum yang ingin mengenal lebih jauh sosok Kiai Ihsan Jampes yang selama ini dikenal sebagai ulama Nusantara dengan karya-karyanya yang monumental. “Alhamdulillah, acara bedah buku sesuai dengan harapan kita bersama. Dengan hadirnya teman-teman semuanya, menjadi penegas bahwa kita semua rindu sekaligus bangga dengan Ulama-ulama Nusantara yang patut dijadikan teladan” jelas Samsuddin, selaku koordinator acara.

Turut hadir dan juga memberikan sambutan, yakni Ketua PCNU Kota Surabaya Dr. Muhibbin Zuhri, M.Ag. yang menyampaiakan tentang pentingnya mempelajari secara mendalam tokoh-tokoh Islam Ahl Sunnah wal Jama’ah, khususnya yang ada di Nusantara.  “Islam yang masuk di Nusantara merupakan Islam otentik yang memiliki jalur (sanad, red) hingga Rasulullah Saw. karena itulah otentisitas Islam di Nusantara ini perlu dipertahankan. Di situlah letak pentingnya studi tokoh, dalam konteks ini seperti Kiai Ihsan Jampes” ungkap Cak Ibin, panggilan akrabnya.

Mengawali pemaparannya, Cak Wasid –sapaan akrab penulis- mengulas sebuah cerita yang dinukil dari KH. Yahya Cholil Staquf Rembang, (cerita yang juga diperoleh KH. Yahya Cholil Staquf dari KH. Maimun Zubair Rembang Jawa Tengah). Cerita tersebut memberikan keterangan tentang kekaguman Kiai Zubair Dahlan, ayahanda KH. Maimun Zubair atas kitab Siraj al-Thalibin, Syarh kitab Minhaj al-Abidin karya Kiai Ihsan Jampes yang mendunia. Sebagai seorang yang hanya dibesarkan dalam pesantren-pesantren lokal, KH. Ihsan Jampes mampu memiliki kemampuan (kedalaman) dalam membaca dan menulis kitab. Hal ini pula yang melatarbelakangi KH. Zubair Dahlan bersama putranya (KH. Maimun Zubair) berkeinginan untuk sowan sekaligus tabarukan ke kediaman KH. Ihsan Jampes untuk berdiskusi tentang masalah keagamaan.

tasawuf nusantara

tasawuf nusantara

Kesederhanaan tersirat dari KH. Ihsan, ketika KH Zubair Dahlan berkunjung di kediamannya. Bermaksud mengungkapkan maksudnya berkunjung, KH. Zubair mengajukan beberapa pertanyaan tentang agama dengan menggunakan bahasa Arab. Alih-alih menjawab pertanyaan tersebut, KH. Ihsan Jampes, dengan santun berkata “Kulo niki tiyang jawi, kok luwih apik gaawe boso jawi mawon kang, dari pada boso Arab” (saya ini orang jawa, kok lebih baik menggunakan bahasa Jawa saja, dari pada bahasa Arab). Berangkat dari cerita tersebut, pria kelahiran Sumenep ini (baca Wasid) ingin menunjukan bahwa sikap tawadhu’ sekaligus  ramah terhadap lokalitas dan budayanya terus dijaga KH. Ihsan Jampes. Meskipun kealiman dan kedalam ilmunya telah diakui dunia.

Baca Juga  Toleransi Akan Dibahas Dalam Bahtsul Masail Halaqoh Kubro Iksab T

Chafid Wahyudi, M.Fil.I., selaku pembanding memberikan tambahan bahwa corak bertasawuf KH. Ihsan Jampes tidak bisa dilepaskan keterkaitannya dengan ajaran tasawuf Imam Ghazali. Hal ini terbukti dari beberapa karangan beliau sebagai sarah dari beberapa kitab karya Imam Ghazali. Meskipun di sana-sini, dapat ditemui pula beberapa tokoh tasawuf lain yang dijadikan rujukan oleh KH. Ihsan Jampes dalam perilkau beragamanya, khususnya dalam bertawuf.

Di penghujung acara, Dr. Wasid mansyur, SS., M.Fil.I memberikan pesan dengan mengatakan; semoga kita semua dapat meneladani dan menjunjung tinggi ajaran-ajaran para ulama Nusantara. Sebagaimana  KH. Ihsan Jampes yang mampu membumikan nilai-nilai sufistik yang ramah tersebut, dalam bingkai berketuhanan dan juga bermasyarakat. Acara bedah buku bertajuk “Pesona Tasawuf Nusantara” ini, selanjutnya diakhiri dengan buka bersama setelah adzan maghrib berkumandang. (Tji/Ibn)

Source: Kobar.Co
Komentar
Related posts
beritaNU

Kisruh Kamus Sejarah Kemendikbud, Nahdlatul Ulama Harapkan Revisi

1 Mins read
Dibaca: 57 JAKARTA, Santrimenara.com-Kisruh Kamus Sejarah yang diterbitkan Direktorat Sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), menuai kritik banyak pihak. Ketua Umum NU… Share ke:Klik untuk berbagi pada Twitter(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru)
berita

Maknai Hari Kartini, Sitta Rosdaniah: Literasi Keuangan bagi Perempuan Sangat Penting

2 Mins read
Dibaca: 57 JAKARTA, Santrimenara.com-Para perempuan Indonesia memaknai Hari Kartini sebagai momentum perjuangan dan kesetaraan. Perempuan menjadi faktor penting dalam pemulihan ekonomi nasional… Share ke:Klik untuk berbagi pada Twitter(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru)
Businessdiskusiinfo

Sitta Rosdaniyah: Halal Tourism Peluang bagi Diaspora Santri, Kembangkan Bisnis dan Teknologi

2 Mins read
Dibaca: 55 Santrimenara.com Perkembangan halal tourism dan ekonomi syariah penting dipersiapkan oleh diaspora santri yang saat ini mengabdi di berbagai negara. Para… Share ke:Klik untuk berbagi pada Twitter(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru)

 

Silakan komentar