Kepada Para Penulis Gegabah Kepada Para Penulis Gegabah
Dibaca: 424 Berusaha berbuat baik sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Bahkan kita dianjurkan untuk berlomba-lomba dalam berbuat baik. Karena, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang... Kepada Para Penulis Gegabah

Berusaha berbuat baik sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Bahkan kita dianjurkan untuk berlomba-lomba dalam berbuat baik. Karena, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. Namun, ketika cara yang digunakan adalah dengan istilah “ngerek genderane dewe tapi nglorot genderane wong liya….” (hlm 51), apakah itu dibenarkan? Tentu, tidak. Sebab, ketika kita tumbuh seperti rumput bagi tanaman padi, kita justru hidup cuma untuk membuat kerugian bagi orang lain.

Terbitnya buku KHR. Asnawi Satu Abad Qudsiyyah Jejak Kiprah Santri Menara atau disebut SAQ pada tahun 2016 ini selang beberapa waktu memunculkan tanggapan kritis dari keluarga Madrasah TBS Kudus. Ada tiga hal yang dipermasalahkan di buku, pertama, penggunaan kata school dianggap sebagai kompromi dengan penjajah. Kedua, tentang adanya penyebutan nama yang tak konsisten dan tidak adanya sumber otentik. Ketiga, penyebutan “biasa-biasa saja” (tidak alim) terhadap KH. Ma’mun Ahmad.

Beberapa permasalahan membuat keluarga TBS memunculkan sebuah buku berjudul Dalil Sejarah TBS. Buku dibalas buku (catatan resensi) tidak akan terjadi bila pertanggungjawaban yang diminta terpenuhi dengan baik. Di dalam buku itu kita akan mendapati bahwa buku SAQ pengerjaannya gegabah, kurang teliti, tidak adanya konfirmasi pada pihak bersangkutan, dan tidak memakai sumber yang lengkap.

Gegabah dan Kurang Teliti
“Madrasah Tasywiquth Thullab Balai Tengahan School yang didirikan oleh K.H.A Kholiq pada 21 November 1928 (Penggunaan kata School adalah bagian dari kompromi dengan Belanda….)” (hlm 37). Kutipan ini menyebut penggunaan kata School pada kata TBS sebagai wujud kompromi adalah penyebutan gegabah yang harus diluruskan. Apalagi penyebutan tidak didasari oleh bukti atau referensi yang kuat. Jika hal ini dilanjutkan kemungkinan akan menyesatkan anggapan banyak orang perihal sejarah TBS.

Adanya ordonansi sekolah pada saat penjajahan membuat pilihan antara ditutup atau dibuka. Penutupan sekolah bisa terjadi karena sekolah melawan secara terang-terangan atau mungkin tak mengetahui siasat lain agar sekolah tetap eksis. Penggunaan kata school pada TBS tak lain adalah siasat belaka. Jika disebut kompromi, maka sudah sejak 1928 pendiri sekolah mendaftarkan sesuai keinginan penjajah, bukan dengan nama TB.

Penulis SAQ dalam pembahasan school juga membandingkan antara Qudsiyyah dan TBS serta sekolah lainnya. “Kenyatannya, sejak awal Madrasah Qudsiyyah tidak mau bekerjasama atau sekedar diakui pemerintahan kolonial Belanda yakni dengan tidak memberi kata school ke dalam nama Qudsiyyah. Berbeda dengan beberapa nama Madrasah lain….” (hlm 47).

Jika melihat kutipan itu, apakah penulis SAQ tak menyadari? Tanpa perubahan atau penambahan kata school, sekolah-sekolah tetap masih bisa berdiri seperti Qudsiyyah di zaman Belanda menjajah Indonesia. Sebab, kita tahu vakumnya Qudsiyyah terjadi di masa penjajahan Jepang. Dari sini, memperlihatkan bahwa tulisan di SAQ ditulis secara gegabah dan kurang teliti.

Ketidaktelitian juga terjadi pada penyebutan nama pendiri TBS. Antara nama K.H.A Kholiq dengan KH. Arwani. Kesalahan menandakan ketidakseriusan penyunting dalam bekerja. Sebab, kesalahan ini dapat menimbulkan kebingungan bagi pembaca dan adanya anggapan buku yang sedang dibaca adalah buku abal-abal dan tak pantas untuk diterbitkan.

Menerbitkan buku kini memang mudah. Hingga membuat orang untuk berlomba-lomba menerbitkan buku agar dianggap menawan, piawai, dan terpelajar. Boleh-boleh saja anggapan itu muncul. Asal isi buku mempunyai kualitas yang baik dan tak dikerjakan secara sembrono. Karena buku mempunyai nasib dan usia.

Setiap buku mempunyai usia masing-masing, jika pembutannya ngawur maka jaminannya buku akan berumur pendek. Buku-buku yang berumur panjang biasanya dibuat dengan perencanaan matang dan melalui seleksi ketat. Hal ini dapat kita lihat terhadap umur kitab Al-Fiyyah Ibnu Malik karangan Ibnu Malik yang masih dipelajari hingga hari ini.

Lagi-lagi penulis SAQ terlalu gegabah dalam menyebut KH. Ma’mun sebagai kiai biasa. “Seperti contoh K. Ma’mun TBS itu sebenarnya orangnya biasa-biasa saja, cuma ayahnya orang alim dan mempunyai pondok sehingga beliau menggantikannya.” (hlm 105).

Memberi anggapan tidak sopan kepada orang shalat yang memakai kaos, itu saja tidak boleh. Apalagi, memberi label bagi seorang ulama dan menyamakannya dengan orang lain. Jelas, itu dilarang. Arti alim dalam KBBI adalah seorang yang mempunyai ilmu. Apakah KH. Ma’mun tidak berilmu? Tentu pertanyaan ini tidak perlu kita jawab. Penyematan kata “biasa-biasa saja” (tidak alim) memperlihatkan para penulis SAQ gegabah dan tiada penghormatan bagi seoarang kiai. Kita harus sepakat buku SAQ tidak perlu dibaca dan dicetak ulang melihat dari cara kerja pembuatannya. Karena, ini tak lebih dari sekadar buku proyek.

Hadirnya peristiwa seperti ini, patut kita jadikan sebagai bahan pembelajaran soal dunia literasi. Bahwa ada banyak aspek yang harus dipenuhi ketika membuat buku. Kita tak menyangsikan keilmuan para penulis di buku SAQ. Tapi, jika melihat buku SAQ dari Dalil Sejarah TBS, ada banyak keluputan yang harus dibenahi.

Buku, ketika sudah dihadirkan ke publik, maka siapa pun berhak mengoreksi keluputan di dalamnya. Maka, untuk meminimalisir kesalahan dan buku dapat bernasib baik, kita perlu menggunakan kerja-kerja seperti koreksi kata, koreksi data, dan verifikasi kepada pihak yang bersangkutan. Buku Dalil Sejarah TBS adalah salah satu contoh buku yang dapat dipertanggungjawabkan jika melihat kelengkapan dari catatan kaki dan referensi yang dicantumkan. []

Komentar

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Silakan komentar