opini

Kelupaan Mencantumkan Hadhratussyaikh Hasyim Asyari di Kamus Sejarah, itu Bukan Sepele

2 Mins read

Pernah mendengar adagium yang konon berasal dari bibir Winston Churchill berbunyi “History has been written by the victors”. Kalimat itu memiliki arti bahwa sejarah hanya dapat ditulis oleh para pemenang. Namun sebentar, adagium yang terkesan heroik itu ternyata banyak menimbulkan perdebatan. Beberapa orang – termasuk saya – menyangkalnya. Kalau memang hanya para pemenang yang dapat menulis sejarah, lantas bagaimana jika tesis yang ditulis itu justru bertolak belakang dengan fakta yang diyakini oleh khalayak umum?

Penyangkalan tersebut tentu saja berdasar kuat. Bagaimana tidak, alih-alih Indonesia ini mengikuti mazhab common sense, di mana persepsi khalayak penting diakomodasi. Selain itu, frasa ‘hanya dapat’ toh bukan berarti ‘hanya pantas’, kan? Artinya, meski pemenang bisa leluasa menuliskan opininya ke dalam sebuah teks, namun tetap saja harus menjunjung tinggi sebuah virtue.

Sayangnya, dalam beberapa kejadian, masih ditemukan ‘teks’ yang disusun secara serampangan oleh pembuat teks. Kadang kala, teks semacam itu seenaknya saja membuat garis deskriptif, terpisah dari fakta sejarah yang – padahal – sudah diverifikasi secara akademik. Kerap ditemukannya modus operasi kecurangan semacam itu, saya berterima kasih kepada akademisi ilmu filsafat dan sosial. Dari kedua ilmu tersebut dapat mempelajari teori hermeneutika, dekonstruksi dan teori-teori lainnya mengenai cara membaca teks.

Baru-baru ini kejadian semacam itu memilukan hati warga Nahdlatul Ulama (NU). Bahkan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Pasalnya ‘teks’ dalam Kamus Sejarah Indonesia Jilid I garapan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tidak menyertakan nama Hadhratussyaikh Hasyim Asy’ari. Ini celaka, sebab sosok itu merupakan pendiri Nahdlatul Ulama (NU), dimana jamiyyahnya lebih dari separuh pemeluk Islam di Indonesia.  Selain itu, nama yang tidak disertakan adalah pahlawan nasional sekaligus lambang dari ke-Islam-an di Indonesia.

Baca Juga  Maulid, Maulud Apa Milad?

Oleh karenanya sangat sulit menerima alibi Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid, yang berkata bahwa zonder nama Hasyim Asy’ari hanyalah disebabkan faktor kealpaan.

Bila saya berwatak seperti Paul Ricoeur (1965) – yang melanggengkan hermeneutika kecurigaan – maka saya tidak segan mengeluarkan praduga bahwa Kemendikbud sengaja menghilangkan nama Hadhratussyaikh Hasyim Asy’ari dikarenakan faktor kesengajaan.

Namun usaha tersebut mungkin akan saya pendam saja. Saya teringat dawuh Hadhratussyaikh dalam kitabnya Adab al-‘Alim wal-Muta’allim yang mewanti-wanti murid-muridnya supaya menghindari buruk sangka.

Derajat Sejarah

Sejarah, dalam LKS SMA kelas X berarti peristiwa di masa lalu, jangan sampai dilupakan. Manusia tidak tahu “tuah” apa yang akan didapatkan akibat melupakannya. Merujuk perkatakaan Imam as-Syafi’I, “Tidaklah orang disebut berilmu sampai dirinya memahami sejarah orang-orang terdahulu. Barangsiapa yang paham sejarah masa lalu, maka sesungguhnya ia telah menambah umurnya dengan umur orang-orang yang terdahulu (dalam arti mampu menjadi generasi unggul).”

Bagi Kemendikbud, cobalah untuk lebih teliti membaca sejarah bangsa sendiri. Jangan sering bercanda. Coba dipikir, mana mungkin pahlawan nasional sekelas Hasyim Asy’ari yang jam’iyyah-nya hampir separuh warga Indonesia yang beragama Islam – berdasarkan penelitian LSI milik Denny JA (2019) – bisa tidak dimasukkan ke dalam kamus sejarah. Lebih lucunya lagi hanya dengan alasan ‘kelupaan’. Itu sama halnya dengan analogi seorang anak yang melupakan wajah bapak yang membesarkannya hanya karena “lupa, sebab wajah bapak sudah menua dan keriput”.

Mengutip dari Syed Hussein Alatas dalam buku Intelektual Masyarakat Berkembang (1977) tertulis bahwa masalah mendasar yang ditemukan di dalam suatu negara bekas jajahan yaitu keberadaan orang-orang sok pintar yang sebenarnya berpikiran bebal. Ciri-ciri orang bebal itu mudah. Di antaranya ketidakmampuan menganalisis masalah, ketidakmampuan menyelesaikan masalah yang dihadapi, ketidakmampuan mempelajari apa yang diperlukan, ketidakmampuan mempelajari seni belajar, dan – sudah begitu – tidak mengakui kebebalannya.

Baca Juga  Ramadan dan Perlawanan Paradigma Perempuan

Nah, Kemendikbud ini kan bak laboratorium berisi orang-orang yang tidak hanya pintar, melainkan terpilih. Kemendikbud seharusnya mampu mempelajari apa yang diperlukan. Artinya, bila pelajaran yang diperlukan yaitu tentang tokoh-tokoh berpengaruh dan berjasa dalam rentang sejarah Indonesia, sudah barang tentu musti jitu menentukan ‘siapa’ yang harus dicantumkan.

Kebenaran sejarah ini penting, sebab perlu dimengerti, Armenia dan Azerbaijan sulit didamaikan itu karena faktor beban sejarah yang gagal dituntaskan. Pun Indonesia ini sudah banyak urusan sejarah yang bikin gempar gegara para penulis teks kurang arif dan bijaksana. Tengok saja perdebatan seputar Supersemar itu yang sampai sekarang masih carut-marut. Bangsa Indonesia tidak ingin hal buruk seperti itu kembali terjadi. Enough is enough.

Baca artikel lainnya disini.

Komentar
Ferhadz Ammar Muhammad
1 posts

About author
IKSAB Angkatan 2012, sekarang Pengurus MWC NU Sarang-Rembang
Articles
Related posts
opini

Mutholaah dan Beberapa Hal Lain untuk Melepas Ramadan

2 Mins read
Bisa juga menambah bacaan yang terkait dengan pengajian dan kajian kitab, meringkasnya, menambahkan catatan di dalamnya, bahkan membukukannya. Share ke:Klik untuk berbagi pada Twitter(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru)
opini

Idulfitri Kudus Kulon: Pelajaran Kecil dari Opor Ayam dan Toples Botol

4 Mins read
Mungkin hal tersebut bisa dikaitkan dengan unggah-ungguh bertamu. Share ke:Klik untuk berbagi pada Twitter(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru)
opini

Puasa adalah Pendidikan Nilai, Praktiknya Harus Dijalankan Sejak Dini

3 Mins read
Pendidikan nilai, erat kaitannya dengan pendidikan karakter dan pendidikan moral bagi anak. Share ke:Klik untuk berbagi pada Twitter(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru)Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru)

 

Silakan komentar