An Nisaa 66-74: Reaksi Munafiqin Menerima Perintah Perang An Nisaa 66-74: Reaksi Munafiqin Menerima Perintah Perang
Dibaca: 141 SANTRIMENARA.COM, NGAJI TAFSIR – Di bawah ini adalah catatan kecil pengajian rutin Tafsir Al Qur’an Edisi Ramadlan yang diasuh langsung oleh KH... An Nisaa 66-74: Reaksi Munafiqin Menerima Perintah Perang

SANTRIMENARA.COM, NGAJI TAFSIR – Di bawah ini adalah catatan kecil pengajian rutin Tafsir Al Qur’an Edisi Ramadlan yang diasuh langsung oleh KH M Sya’roni Ahmadi Kudus di Masjid Al Aqsha Menara Kudus pada Kamis (24/5/2018). Ada 9 ayat dalam surat an Nisaa’ (66-74) yang dijelaskan KH Syaroni Ahmadi pada catatan edisi “Reaksi Munafiqin Menerima Perintah Perang”.

Sembilan ayat tersebut menerangkan tentang Taubat umat Nabi Muhammad tidak sesulit taubat Bani Israil, berkumpulnya para Sahabat, Shiddiqin, Syuhada’ dan Shalihin dengan Nabi di surga, reaksi Munafiqin ketika menerima perintah perang. Berikut selengkapnya:

An-Nisaa 66-68 (Taubat Umat Nabi Muhammad Tidak Sesulit Taubat Bani Israil)

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوهُ إِلَّا قَلِيلٌ مِنْهُمْ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا (66)

Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka),

وَإِذًا لَآَتَيْنَاهُمْ مِنْ لَدُنَّا أَجْرًا عَظِيمًا (67)

dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami,

وَلَهَدَيْنَاهُمْ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (68)

dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus.

Tata cara taubat Umat Nabi Muhammad tidaklah sesulit taubatnya Bani Israil. Agar diterima taubatnya Bani Israil harus membunuh dirinya sendiri atau di asingkan dari tempat tinggalnya. Andaikan kewajiban membunuh diri sendiri dan diasingkan dari tempat tinggal sebagai syarat diterimanya taubat diterapkan pada Umat Nabi Muhammad SAW niscaya tidak akan ada yang mau mengikuti kecuali sedikit. Beruntung syariat itu tidak berlaku untuk Umat Nabi Muhammad SAW. Untuk diterima taubatnya Umat Nabi Muhammad SAW cukup dengan menyesal dan mengakui kesalahannya serta berjanji tidak mengulang perbuatannya.

Jika Umat Nabi Muhammad SAW mau mengikuti perintah Nabi untuk bertaubat niscaya akan mendapat balasan yang besar yaitu surga.

An-Nisaa 69-70 (Berkumpulnya Para Sahabat, Shiddiqin, Syuhada’ Dan Shalihin dengan Nabi Di Surga)

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا (69)

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya

ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا (70)

Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.

Kecintaan para sahabat dan kekhawatiran nasib mereka di akhirat tidak dapat berkumpul bersama Nabi Muhammad SAW mendorong mereka untuk bertanya kepada Nabi. Sebagian mereka bertanya kepada Nabi: “Bagaimana kelak di akhirat kita bisa melihat engkau yang berada pada tingkatan yang tinggi sedangkan kami berada pada derajat terendah.”

Ayat ini (Q.S. An Nisaa: 69) turun untuk menjawab kegundahan mereka. Siapa pun yang taat perintah Allah dan RasulNya kelak di surga pasti akan berkumpul dengan para Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Shiddiqin adalah para sahabat para Nabi yang luhur. Surga adalah tempat yang luar biasa luas. Berapapun penduduknya pasti akan bisa berkumpul. Tidak hanya bisa melihat tapi mereka bisa mendengarkan, berkunjung dan hadir bersama mereka walaupun tidak berdampingan dengannya. Kenikmatan semacam ini adalah semata fadhal atau karunia dari Allah SWT, bukan mereka peroleh karena ketaatan mereka.

An-Nisaa 71-74 (Reaksi Munafiqin Ketika Menerima Perintah Perang)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُبَاتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعًا (71)

Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama.

Umat Islam diperintah Allah untuk selalu mempersiapkan peralatan perang. Zaman dulu persiapan peralatan perang adalah pedang tombak dan sejenisnya. Untuk saat ini persiapan perang meliputi pistol dan sejenisnya. Allah memerintahkan untuk berangkat perang dengan strategi yang bermacam-macam. Berkelompok dan bergelombang atau maju serentak.

وَإِنَّ مِنْكُمْ لَمَنْ لَيُبَطِّئَنَّ فَإِنْ أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَالَ قَدْ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيَّ إِذْ لَمْ أَكُنْ مَعَهُمْ شَهِيدًا (72)

Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran). Maka jika kamu ditimpa musibah ia berkata: “Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersama mereka.

Dalam peperangan pasti ada kelompok munafiqin. Mereka adalah orang-orang yang menggembosi semangat para sahabat yang akan berangkat perang sebagaimana Abdullah bin Ubay dan teman-temannya. Ketika para sahabat yang berangkat perang mengalami kekalahan, mati di medan perang mereka munafiqun berkata: “Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersama mereka (sehingga aku mati).”

 

وَلَئِنْ أَصَابَكُمْ فَضْلٌ مِنَ اللَّهِ لَيَقُولَنَّ كَأَنْ لَمْ تَكُنْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ مَوَدَّةٌ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ مَعَهُمْ فَأَفُوزَ فَوْزًا عَظِيمًا (73)

Dan sungguh jika kamu beroleh karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seolah-oleh belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia: “Wahai kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar (pula).”

Sebaliknya apabila para sahabat yang berangkat perang beroleh kemenangan dan rampasan mereka munafiqun berkata dengan nada menyesal: “kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar pula.”

فَلْيُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يَشْرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآَخِرَةِ وَمَنْ يُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيُقْتَلْ أَوْ يَغْلِبْ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا (74)

Karena itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar.

Hanya ada dua pilihan bagi orang yang berangkat perang:

إِنْ مُتْتُمْ فَلَكُمُ الْجَنَّة ♦ فَإِنْ غَلَبْتُمْ فَلَكُمُ الْغَنِيْمَة

Jika kalian mati (di medan perang) maka bagimu surga. Ketika kalian beroleh kemenangan maka bagimu rampasan perang (ghanimah). (smc-777)

Komentar

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Silakan komentar