Suasana di Desa Santri Kota Pekalongan Suasana di Desa Santri Kota Pekalongan
Dibaca: 1.527 SANTRIMENARA.COM, PEKALONGAN – Di Pekalongan ada suatu desa yang menjadi pusat belajar keagamaan, pendidikan dan perekonomian, yaitu desa Simbang. “Di sini juga... Suasana di Desa Santri Kota Pekalongan

SANTRIMENARA.COM, PEKALONGAN – Di Pekalongan ada suatu desa yang menjadi pusat belajar keagamaan, pendidikan dan perekonomian, yaitu desa Simbang. “Di sini juga menjadi pusat ulama di Kabupaten Pekalongan,” ujar KH. Nurul Haq, pengasuh PP. Takhassus MAS Simbang pada Rabu (27/7) di kediamannya.

Secara administratif, Simbang masuk dalam kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan. Melihat potensi yang sedemikian besar itu, maka pemerintah Kota Pekalongan pernah “meminta” agar Simbang masuk dalam wilayah kotamadya. “Karena secara geografis lebih dekat kotamadya dan untuk mengurus keperluan administratif juga lebih dekat,” tegas Ana, salah satu warga Simbang.

Menurut pantauan SantriMenara.Com pada Selasa-Kamis (26-28/7), setiap hari banyak terlihat aktivitas keagamaan, mulai dari sekolah, mushalla, masjid hingga rumah-rumah penduduk. Dari sebelum subuh hingga sekitar pukul 21.00, masih ada juga acara seremoni keagamaan seperti membaca Al-Qur’an, pembacaan maulid, ngaji dan lain sebagainya.

Di antara para kiai, terdapat sejumlah nama yang kemudian dijadikan nama gang dan jalan di Simbang seperti KH. Abdul Wahab, KH. A. Fadhlun (Gang 1), KH. Abdul Hadi (Gang 2), KH. Amir (Gang 3), KH. Adam (Gang 4), KH. Chudlori Tabri, KH. Bakri, KH. Ilyas, dan lain sebagainya.

Beberapa pondok yang ada misalnya PP. Nurul Huda, PP. Nurul Huda Banat, PP. Nurul Huda Banin, PP. Takhassus MAS Simbang, PP. Fathul Ulum, PP. Al-Maktab, PP. Al-Amir dan lainnya. Ada juga pondok khusus noto ati, yaitu Padepokan Padang Ati yang diasuh oleh KH. Abdul Halim. Pondok ini mempunyai slogan sabar, ngalah (mengalah), triman (menerima apa adanya), loman (derma).

“Santri di sini mungkin berbeda dengan santri yang lainnya. Sekaya apapun, sepintar apapun, sesepuh apapun mereka (warga Simbang) masih menganggap dirinya santri,” ujar Nur, santri asli Simbang. Ia juga menambahkan, walaupun tidak di pondok, mereka masih bisa ngaji di majlis taklim di tiap-tiap mushalla. “Tua, muda, besar kecil, semuanya selalu semangat untuk ngaji agama” tambahnya. (smc-025).

Komentar

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Silakan komentar