Sejarah Nuzulul Qur’an Dalam Kajian Ramadlan Oleh KH Sya’roni Ahmadi Sejarah Nuzulul Qur’an Dalam Kajian Ramadlan Oleh KH Sya’roni Ahmadi
Dibaca: 796 SANTRIMENARA.COM, NGAJI TAFSIR – Ngaji Pasan 1438 H usai shalat Shubuh oleh KH M Sya’roni Ahmadi Kudus di Masjid Al Aqsha Menara... Sejarah Nuzulul Qur’an Dalam Kajian Ramadlan Oleh KH Sya’roni Ahmadi

SANTRIMENARA.COM, NGAJI TAFSIR – Ngaji Pasan 1438 H usai shalat Shubuh oleh KH M Sya’roni Ahmadi Kudus di Masjid Al Aqsha Menara Kudus pada Kamis (01/06/2017) mengkaji surat Ali Imran ayat 1-6. Enam ayat tersebut menjelaskan tentang Sejarah Nuzulul Qur’an dan Kuasa Allah. Surat Ali Imran terdiri dari 200 ayat, surat terpanjang kedua setelah Al Baqarah dan tergolong surat Madaniyyah. Berikut kajiannya:

Surat Ali Imran ayat 1-2

الۤـمۤ (1) اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ (2)

“Alif laam miim, Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang hidup lagi berdiri pada Dzat-Nya sendiri.”

Apabila waqaf (berhenti) pada ayat 1 cara membacanya yaitu Lam panjang 3 alif, Mim 3 alif, antara lam dan mim dibaca ghunnah kira-kira 1 atau 1 ½ Alif. Contoh: Alif Laaammmiiim

Apabila washal (disambung) dengan ayat kedua cara membacanya Lam panjang 3 alif, Mim 1 atau 3 alif tidak boleh 2 alif dan difathah. Contoh: Alif Laaam miiimallahu Laa Ilaaha Illa dan seterusnya.

Hanya Allah yang tahu makna Alif laam miim. Membaca Alif laam miim walaupun tidak mengetahui maknanya tetap mendapat pahala. Sebagaimana dari Imran bin Husain, Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الۤـمۤ حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ (رواه البخاري)

“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al Qur’an) maka baginya satu pahala dan satu pahala dilipatkan 10 kali. Saya tidak mengatakan Alif laam miim satu huruf tapi Alif satu huruf Lam satu huruf dan Mim satu huruf” (HR. Bukhari)

Satu hasanah (pahala) yang dimaksud dalam hadits nilainya lebih berharga dari dunia seisinya. Sehingga Alif laam miim 3 huruf x 10 hasanah menjadi 30 hasanah. Begitu murahnya Allah memberikan pahala kepada makhlukNya, namun rata-rata manusia tetap malas mengamalkannya karena pahalanya tidak langsung diberikan ketika masih di dunia. Yang sudah lancar bacaannya supaya rajin membaca Al Qur’an dan yang belum fashih bacaannya supaya mengaji dulu kepada ahlinya.

Makna Al Qayyum adalah berdiri pada dzatNya sendiri artinya tidak butuh tempat untuk berpijak atau tinggal. Allah tidak butuh tempat tinggal karena yang menciptakan tempat tinggal adalah Allah. Logikanya jika Allah berada di langit padahal langit adalah ciptaanNya maka akan timbul pertanyaan. Sebelum Allah menciptakan langit Allah tinggal di mana? Jika dijawab di bumi atau menggantung di antaranya maka akan timbul pertanyaan yang sama.

Surat Ali Imran ayat 3-4

نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالإِنْجِيلَ (3) مِنْ قَبْلُ هُدًى لِلنَّاسِ وَأَنْزَلَ الْفُرْقَانَ إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآَيَاتِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ (4)

“Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, sebelum (Al Quran), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al Furqaan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa).”

Dalam satu ayat terdapat penggunaan kata Nazzala dan Anzala yang artinya berbeda. Nazzala Yunazzilu Tanziilan artinya Kitab turun secara berangsur-angsur sedang Anzala Yunzilu Inzaalan artinya Kitab langsung turun utuh satu kitab. Taurat dan Injil turunnya langsung utuh satu kali sedangkan Al Qur’an turunnya dengan dua cara. Yang pertama, Malaikat Jibril atas perintah Allah meminta malaikat Safarah untuk menyalin yang tertulis di Lauh Mahfudh dari surat Al Fatihah sampai surat An Nas kemudian membawanya turun ke Baitul Izzah langit bumi yang berada lurus vertikal di atas Ka’bah. Allah SWT berfirman:

بَلْ هُوَ قُرْآَنٌ مَجِيدٌ (21) فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ (22)

“Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfudh.”

Yang kedua, Malaikat Jibril secara berangsur-angsur menurunkan ayat Al Qur’an sesuai dengan situasi dan kondisi Nabi Muhammad SAW saat itu. Surat yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad adalah surat Al ‘Alaq ayat 1-5 di gua Hira. Urutan mushaf Al Qur’an yang kita gunakan adalah sesuai dengan urutan yang ada pada Lauh Mahfudh bukan urutan turunnya kepada Nabi Muhammad SAW.

Untuk memperingati turunnya Al Qur’an memakai istilah Nuzulul Qur’an dari kata Nazala Yanzilu Nuzuula sehingga bisa mencakup peringatan turunnya Al Qur’an yang secara langsung dan yang turun secara berangsur-angsur.

Surat Ali Imran ayat 5-6

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ (5) هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (6)

Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Baca juga: Ngaji Tafsir KH. Sya’roni Ahmadi; Proses Turunnya Kitab Allah
Ngaji KH. Sya’roni Ahmadi Ramadan 1438 Dimulai

Tidak ada yang samar bagi Allah antara yang di langit dan di bumi semua terlihat sama jelasnya. Beda dengan kita yang hanya bisa mengetahui sebatas apa yang kita lihat dan sejauh pandangan mata. Allah juga yang membentuk janin yang ada dalam kandungan. Anak yang pertama beda bentuknya dengan anak yang kedua demikian seterusnya, padahal dalam kandungan tidak ada cetakannya.

Kalimat Al Azizu bisa dimaknai Dzat Yang Mulia atau bisa Dzat Yang Menang. (smc-777)

Komentar

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Silakan komentar