Rela Berkorban Rela Berkorban
Dibaca: 249 Edisi 9 Jum’at, 10 Dzul Hijjah 1438 H / 1 September 2017 M Oleh: Mutohhar, M.Pd. Dikisahkan bahwa saat Nabi Ibrahim mendapat... Rela Berkorban

Edisi 9 Jum’at, 10 Dzul Hijjah 1438 H / 1 September 2017 M

Oleh: Mutohhar, M.Pd.

Dikisahkan bahwa saat Nabi Ibrahim mendapat ujian dari Allah yaitu perintah untuk menyembelih putranya. Saat hendak pergi untuk melaksanakan perintah tersebut, beliau meminta istrinya, Siti Hajar untuk memakaikan pakaian yang bagus dan menatanya untuk Nabi Ismail, sehingga nampak sosok pemuda yang gagah, tampan dan santun. Sontak saja waktu itu para iblis lalu berusaha menggoda Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Siti Hajar untuk tidak jadi melaksanakan perintah Allah yang disampaikan lewat mimpi. Namun karena kecintaan terhadap Allah melebihi segalanya, Nabi Ibrahim tetap menjalankan perintah dari Allah untuk menyembelih Nabi Ismail. Berkat ketabahan dan kesabaran nabi Ismail, pada akhirnya Allah menukar Nabi Ismail dengan seekor domba dari Surga.

Bulan Dzulhijjah atau yang dikenal oleh masyarakat jawa sebagai Sasi Besar selalu dikaitkan dengan perayaan hari raya Kurban, dimana umat islam mengorbankan sebagian hartanya yang diwujudkan dengan Udlhiyyah atau hewan yang disembelih sebagai salah satu sunnah yang ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Sebagaimana banyak kisah yang telah disampaikan, sejauh ini umat Islam hanya menjadikan kisah Nabi Ibrahim Ailaihis Salam saat mendapatkan perintah dari Allah yang disampaikan melalui mimpi untuk menyembelih putra kesayangannya yaitu Nabi Ismail AS sebagai sebab mengapa disunnahkan untuk melakukan ibadah qurban. Padalah di balik kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil.

Pertama, Kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam rangka memanusiakan manusia. Keputusan Allah yang mengganti Nabi Ismail dengan dengan domba dari surga, menjadi petunjuk bahwa Islam melarang mengorbankan manusia sebagai sesembahan. Sebagaimana yang dilakukan oleh beberapa suku primitif di masa lalu, salah satunya adalah suku aztek di daerah Amerika Tengah yang sekarang menjadi negara Meksiko, ada ritual dimana suku tersebut mengorbankan manusia sebagai sesembahan kepada para dewa, selain itu manusia yang dikorbankan sebagai tumbal juga dianggap sebagai penebus dosa, bahkan tidak jarang mereka mengorbankan anak-anak kecil sebagai penebus atau pengganti atas air hujan yang diturunkan oleh dewanya.

Kedua, Pengorbanan Nabi Ibrahim dilandasi atas nilai keimanan yang kuat. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Nabi Ibrahim adalah sosok manusia yang memiliki keimanan yang sempurna. Proses perjalanan panjang pencarian Tuhan menjadikan ketauhidan dan keimanan Nabi Ibrahim sangat kuat. Hal inilah yang menjadi landasan seberapa besar pengorbanan yang dilakukan ketika pengorbanan itu ditujukan hanya kepada Allah. Meskipun saat itu putra kesayangannya mulai tumbuh menjadi seorang anak yang tampan, Nabi Ibrahim tidak keberatan diperintah menyembelihnya, karena beliau yakin bahwa semua milik Allah dan jika diminta wajib dikembalikan. Saat perintah dan hukum Allah SWT datang, apapun harus dikorbankan. Perintah Allah di atas segala-galanya. Sebab mentaati perintah dan aturan Allah jauh lebih mashlahat dibandingkan dengan menuruti perasaan dan hawa nafsu.

Makna yang bisa kita ambil adalah tingkat keimanan seseorang akan berpengaruh terhadap seberapa besar pengorbanan yang akan dilakukannya. Semakin kuat imannya, maka semakin besar pula kerelaannya untuk berkorban, dan sebaliknya.

Ketiga, Pengorbanan sebagai bukti kecintaan kepada Allah. Pengorbanan seseorang seringkali dikaitkan dengan urusan cinta. Sehingga seringkali menjadi anggapan bahwa semakin tinggi kecintaan orang terhadap sesuatu, maka semakin besar pula pengorbanan yang dilakukan. Hanya saja, asumsi tersebut sirna manakala apa yang dicintainya hilang. Oleh sebab itu, perlu menjadi kesadaran bersama, bahwa segala mahluk ciptaan Allah memiliki sifat fana’ (rusak), maka sudah sepatutnya juga kecintaan manusia terhadap manusia lain, harta benda dan segala sesuatu yang bersifat duniawi juga tidak akan bisa abadi, karena kecintaan tersebut lebih kepada kecintaan yang bersifat sementar yang sewaktu-waktu bisa hilang.

Dalam hal ini Nabi Ibrahim telah memberikan pelajaran berharga bahwa, kecintaan manusia terhadap sesama mahluk lainnya, kecintaan orang tua terhadap anaknya, kecintaan manusia terhadap harta yang dimilikinya akan hilang pada saat yang dicintainya tersebut sudah tiada, ataupun hilang dan rusak. Sebagaimana kecintaan Nabi Ibrahim kepada Ismail, beliau rela mengorbankan Nabi Ismail yang dicintai hanya karena Allah. Maka kita harus meneladaninya, apapun yang kita miliki dan kita cintai, sudah sepatutnya juga rela kita korbankan untuk tujuan kebaikan dan hanya karena Allah, dengan bekal keyakinan bahwa Allah akan mengganti pengorbanan kita sebagaimana Allah mengganti Nabi Ismail yang hendak disembelih dengan seekor domba dari syurga.

Keempat, yang dikorbankan adalah sifat kebinatangan yang ada pada manusia (Quraisy Shihab). Sebagai mahluk yang juga memiliki nafsu selain akal pikiran, manusia cenderung memiliki sikap-sikap yang ingin mengutamakan dan memenangkan diri sendiri. Banyak persoalan dan permasalahan yang ada di muka bumi ini lantaran tidak adanya sebuah kerelaan seseorang untuk lebih mengedepankan dan mementingkan kepentingan orang lain atau kepentingan bersama, sehingga memicu terjadinya konflik baik itu personal maupun kelompok. Kaitannya dengan Idul Qurban, pelajaran yang bisa kita ambil adalah bahwasanya sikap mengutamakan dan mementingkan diri sendiri atau bahkan mau menang sendiri adalah seperti halnya sikap yang dimiliki dan ditunjukkan oleh hewan dan binatang, sehingga makna Qurban adalah mengorbankan sikap-sikap ke-binatang-an yang dimiliki oleh manusia dan berharap Allah menggantinya dengan hidayah agar menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Kelima, Pengorbanan sebagai bentuk perjuangan. Suatu saat Nabi Ibrahim berdo’a memohon kepada Allah agar dianugerahkan seorang anak yang sholeh kepadanya. Dan kemudian Allah menjawab do’anya dengan menganugerahkan seorang putra yang sholih bernama Ismail. Namun saat Nabi Ibrahim sedang dalam masa-masa merasakan keceriaan dan kebahagiaan bersama putranya, datang perintah dari Allah untuk menyembelihnya.

Bahwa dalam kehidupan di dunia ini, Allah akan mendengarkan do’a hambanya manakala hamba tersebut tidak putus asa dan selalu yakin bahwa Allah akan mengabulkan permintaannya, hanya saja banyak manusia yang kemudian terlanjur larut dalam kebahagiaan yang sudah diterimanya tanpa siap bahwa sewaktu-waktu Allah juga akan memberikan ujian dan cobaan. Oleh karena itu, setiap manusia harus selalu berjuang dalam hidupnya, tidak hanya untuk mencari kebahagiaan, namun juga berjuang manakala menerima cobaan dari Allah.

Keenam, Pengorbanan butuh kesabaran dan keikhlasan. Sebagai seorang anak pada umumnya, Nabi Ismail mendapatkan kasih sayang yang luar biasa dari kedua orang tuanya, meskipun begitu Nabi Ismail juga menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Ujian datang saat ayahnya (Nabi Ibrahim) menyampaikan mimpi bahwa Allah memerintahkan untuk menyembelihnya. Sebuah perintah yang sangat tidak wajar dalam logika manusia pada umumnya, namun diluar dugaan Nabi Ismail justru membenarkan mimpi tersebut sembari meyakinkan kepada ayahnya bahwa jika itu perintah Allah maka laksanakanlah.

Nabi Ismail sangat yakin bahwa perintah Allah adalah yang terbaik, manusia harus ikhlas dan sabar menjalankannya,karena pasti akan diberi balasan berupa kecintaan Allah dan kenikmatan surgaNya. Ini membuktikan bahwa sebuah pengorbanan tidak mudah dilakukan manakala tidak memiliki kesabaran dan keikhlasan.

Dan yang terakhir adalah bahwasanya Pengorbanan dilakukan untuk mencapai sebuah tujuan. Berbagai pengorbanan yang manusia lakukan merupakan konsekuensi dan sekaligus esensi dari keimanan. Betapa tidak, pengorbanan manusia terbesar yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail merupakan bentuk totalitas keimanan yang dipersembahkan kepada Allah. Keberadaan Nabi Ismail sebagai harta yang dimiliki dan disayangi tetap saja diserahkan untuk menggapai sebuah tujuan mulia, yaitu mendapatkan ridlo dari Allah Subhanahu Wata’ala. Sudah barang tentu, manusia biasa seperti kita ini selalu ikhtiyar untuk melakukan pengorbanan demi pengorbanan sebagai sunnah dan sekaligus syarat kehidupan. Kehidupan dunia penuh dengan ujian, cobaan, tantangan, persoalan dan musibah yang semuanya menuntut pengorbanan. Dan yang terpenting lagi bahwa pengorbanan yang kita lakukan adalah untuk tujuan mendapatkan predikat kemuliaan di hadapan Allah SWT.

Semoga Allah menerima semua perjuangan dan pengorbanan kita, dan menggantinya dengan balasan yang sebaik-baiknya, Amin.

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Silakan komentar