Punya Karya Puluhan Jilid, Tapi Tidak Punya Rumah Punya Karya Puluhan Jilid, Tapi Tidak Punya Rumah
Dibaca: 406 SANTRIMENARA.COM – KUDUS. Salah satu hal yang patut direnungkan saat ini adalah kritik soal latahnya seorang akademisi atau intelektual, yang dikala sudah... Punya Karya Puluhan Jilid, Tapi Tidak Punya Rumah

SANTRIMENARA.COM – KUDUS. Salah satu hal yang patut direnungkan saat ini adalah kritik soal latahnya seorang akademisi atau intelektual, yang dikala sudah merasa diri punya banyak karya, merasa harus mengubah gaya hidupnya menjadi lebih tampak kaya, pintar dan menghakimi orang lain dengan mudah.

Mengkritik hal itu, KH. Abdul Qoyyum (Gus Qoyyum) mengisahkan teladan seorang ulama dari India, yang mengarang 25 jilid Syarah Sunan Nasa’i tapi rumahnya masyaAllah sangat sederhana. Lampu dop depan rumahnya mblerek (terlalu redup karena kualitas cahaya lampu yang rendah).

Gus Qoyyum berani bersaksi karena ia sendiri datang langsung, “tak parani (saya datang ke sana),” terangnya saat mengisi pengajian umum dalam rangka Harlah Madrasah TBS ke 92 di depan Gedung PAUD TBS, Kerandon, Kota, Kudus, Jumat (02/03/2018) malam.

Ulama India di atas itulah yang dijadikan contoh Gus Qoyyum saat memaknai Al-Qur’an Surat As-Syams ayat 10, yang berbunyi: وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا. Ini pesan keempat yang disampaikan Gus Qoyyum di pengajian umum tersebut.

Menurut Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam tafsir Al-Wajiz nya, makna ayat di atas adalah اهمل تهذيب نفسه , yang artinya: tidak pernah mendidik dirinya sendiri.

Barangkali, kita mudah menjumpai orang yang suka menceramahi orang lain karena kealimannya, tapi lupa mengurus amal ibadahnya, “sholatnya malah wal-wal keduwal (kedodoran),” tandas Gus Qoyyum. Ini adalah contoh makna ayat di atas.

Padahal, jika mau jujur, belum tentu kealiman sang penceramah tersebut melebihi kealiman ulama di belahan dunia lain. Gus Qoyyum bercerita tentang seorang kiai dari Ethopia yang disebutnya paling alim sejagad raya untuk hari ini. Tapi, saking hati-hatinya mendidik wira’i diri, beliau tidak punya rumah.

“Padahal, beliau ini adalah pengarang Kitab Syarah Shohih Muslim yang tebalnya 25 jilid,” terang Gus Qoyyum di hadapan ribuan hadirin pengajian sekaligus pengumuman dibukanya Ma’had Aly TBS Kudus tersebut.

Untuk mendidik diri sendiri, sosok KH Hasyim Asy’ari juga bisa dijadikan contoh. Kata Gus Qoyyum, Mbah Hasyim itu seneng torog (suka merugi untuk sedekah). “Jangan kalau ada pembangunan, hanya urun doa saja,” tambahnya dalam bahasa Jawa.

Dalam Kitab Al-Fawa’idul Muktaroh anggitan Habib Husain bin Smith (Madinah), dikisahkan seorang sayyid dzurriyah Nabi,  yang karena khusyuk i’tikaf beribadah di Masjid Madinah, ia terkunci di dalam. Tidak ada pintu keluar, semua pintu masjid dikunci merbot. Ketika qodlil hajat (berak), ia bingung harus dibuang kemana karena di dalam masjid hanya ada Makam Rasulullah SAW dan Al-Qur’an.

Simalakama, dikeluarkan akan mengotori masjid. Ditahan, ia sakit. Terpaksa ia merobek kain lalu dijadikan tempat pembungkus kotoran. Niatnya supaya masjid tetap suci dan bersih. Lalu tidur. Saat Subuh, merbot datang membuka pintu masjid. Sang sayyid itu cepat-cepat keluar agar kotoran tidak lekas tercium baunya oleh penjaga masjid.

Tapi ketika dicari, kotoran itu malah justru jadi emas, “buang hajat jadi emas,” terang Gus Qoyyum, sambil menerangkan bahwa mendidik diri sendiri agar tidak merugikan orang lain kadang menumbuhkan karomah. (SMC-212)

Komentar

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Silakan komentar