Pesan Sosial Ibadah Kurban Pesan Sosial Ibadah Kurban
Dibaca: 550 Oleh M. Nafiul Haris Hari raya kurban adalah momen paling bergengsi dikalangan umat Islam di dunia. Oleh karena itu kurban menyimpan banyak... Pesan Sosial Ibadah Kurban

Oleh M. Nafiul Haris

Hari raya kurban adalah momen paling bergengsi dikalangan umat Islam di dunia. Oleh karena itu kurban menyimpan banyak pesan sosial kemanusiaan diantaranya adalah kisah Nabi Ibrahim yang kemudian menjadi referensi agung perayaan hari raya kurban ini. Kisah tentang Nabi Ibrahim dijelaskan dalam Al-Quran (QS:37:102:-107), dalam kisah penuh pelajaran ini juga terdapat pesan moral yang seharusnya apabila dikontekstualisasikan dalam konteks kekinian akan sangat berpengaruh terutama pada para elit politik kita ditengah banyaknya kasus korupsi, kolusi dan nepotisme sehingga memaksa presiden untuk melakukan reshuffle.

Pesan yang dimaksud diatas yaitu berupa kepatuhan, kedermawanan, dan spirit kemanusiaan. Tiga pesan tersebut tampaknya kini mulai hilang dalam bangunan hidup bermasyarakat dinegeri ini. Terbukti banyaknya kasus kemanusiaan yang menimpa rakyat kecil, mulai dari kekerasan seksual, Hak Asasi Manusia (HAM), sampai upaya-upaya kriminalisasi. Agar martabat manusia sebagai makhluk Tuhan tetap terjaga, maka manusia perlu mendekatkan diri (taqarrub) kepada-Nya dengan menginfakkan harta termasuk membagi-bagikan daging dari hasil sembelihan kurban kepada Mustahik sebagaimana firman Allah “Ketahuilah sesungguhnya infak itu suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah)” (QS At-Taubah :99).

Dalam perspektif ini, Idul Adha mewadahi hak masyarakat miskin untuk memperoleh jaminan kesejahteraan dari golongan mampu dengan imbalan pahala. Di sini, relasi prinsip HAM dan Idul Adha menjadi sangat kuat dalam membentengi keadilan sosial serta menghapus segala bentuk diskriminasi dan penindasan. Tak luput dari semua itu, ibadah kurban juga memuat pesan moral kemanusiaan. Hal ini bisa dilihat dari penggantian sembelihan dari Ismail kepada seekor hewan sembelihan yang mencerminkan jika Tuhan telah menghormati manusia sekaligus menjaga nilai-nilai kemanusiaanya.

Dengan semangat berkurban, setidaknya ada peningkatan kualitas apresiasi kemanusiaan di berbagai aspek kehidupan. Sebagai konsekuensinya, manusia dituntut untuk membersihkan diri dan orientasi hidupnya yang sering picik. Begitu pula terhadap kehidupan sosial serta institusi dalam berbangsa dan bernegara yang terkesan “binatangisme” yang jelas-jelas menodai prinsip kemanusiaan. Bahkan diperparah lagi dengan pengingkaran fitrah kemanusiaan itu sendiri, seperti; melecehkan keadilan, menafikan akal sehat, dan praktek korupsi yang tiada berkesudahan.

Pesan Sosial Kurban
Selain memiliki makna ritual, ibadah kurban juga mengandung pesan sosial. Di antara pesan sosial yang terkandung di dalam ritual kurban adalah: Pertama, dibebankannya ibadah ini bagi umat Islam yang mampu dan mendistribusikan dagingnya kepada kaum lemah menyiratkan pesan substansial kepada kita agar selalu bersemangat membantu meringankan penderitaan orang lain. Bantuan yang diberikan pun tidak selalu harus berupa materi, melainkan bisa dengan apa pun yang dapat kita sumbangkan demi penyelesaian problematika sosial masyarakat. Misalnya, sumbangan pikiran, motivasi, tenaga, dan lainnya.

Secara substansial, orang yang setiap tahun melaksanakan kurban belum dapat disebut ‘berkurban’ jika dalam dirinya tidak tertanam semangat membantu meringankan beban penderitaan orang lain dalam kehidupan sehari-harinya. Sebaliknya, meskipun tidak memiliki kekayaan untuk melakukan kurban tetapi dalam dirinya telah mengkristal semangat meringankan beban penderitaan orang lain berarti mereka inilah (yang secara substansial) layak disebut pekurban sejati.

Kedua, ketundukan Ibrahim kepada Tuhannya membawa pesan moral kepada kita untuk senantiasa patuh kepada undang-undang dan aturan yang ada. Sebagai umat Islam sekaligus warga negara yang baik, kita harus menghargai hukum, undang-undang dan tata aturan yang berlaku di negeri ini, di samping tentunya mematuhi hukum dan undang-undang dari Tuhan itu sendiri, yang tersampaikan melalui scriptural Islam (Alquran dan Sunah Nabi).

Ketiga, menyembelih hewan berarti menyembelih sifat-sifat kebinatangan seperti egois, serakah, rakus, menindas, tidak mengenal aturan, norma atau etika, dan rela membunuh saudara demi keuntungan pribadi. Memperkaya diri sendiri, memonopoli seluruh sektor perekonomian, korupsi, penindasan terhadap masyarakat lemah, tidak taat aturan, bertindak amoral, arogan, dan apatis terhadap realitas sosial masyarakat yang memprihatinkan, menunjukkan bahwa kurban yang dilakukan belum mampu memberikan kontribusi positif untuk memperbaiki diri dan menata tatanan sosial yang lebih baik.

Keempat, disunahkannya menggemakan takbir sampai waktu ashar di akhir Hari Tasyriq (tanggal 13 Dzulhijjah) memperlihatkan kepada kita bahwa hanya Allah-lah yang memiliki kekuasaan agung dan absolut. Oleh karenanya, tidaklah patut para pejabat negara, elite-kekuasaan, elite-politik, elite-ekonomi, dan manusia-manusia kaya, bertindak semena-mena terhadap manusia lain serta berjalan congkak di muka bumi ini.

Pemaknaan seperti inilah yang akan menemukan relevansinya dengan kondisi bangsa kita yang sedang didera banyak derita bencana dan multikrisis di segala sektor; krisis pemerintahan, moral, sosial, ekonomi, edukasi, dan sebagainya. Selamat Hari Raya Idul Adha 1437 H. Semoga kurban kita semua menjadi ibadah yang hakiki dalam konteks ritual maupun sosial.

Penulis adalah Alumnus MA NU TBS Kudus 2010

Komentar

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Silakan komentar