Penistaan Yahudi Terhadap Kitab, Nabi, Allah SWT Dalam Kajian Ramadlan Oleh KH Sya’roni Ahmadi Penistaan Yahudi Terhadap Kitab, Nabi, Allah SWT Dalam Kajian Ramadlan Oleh KH Sya’roni Ahmadi
Dibaca: 930 SANTRIMENARA.COM, NGAJI TAFSIR – Ngaji Pasan 1438 H oleh KH M Sya’roni Ahmadi Kudus di Masjid Al Aqsha Menara Kudus pada Senin... Penistaan Yahudi Terhadap Kitab, Nabi, Allah SWT Dalam Kajian Ramadlan Oleh KH Sya’roni Ahmadi

SANTRIMENARA.COM, NGAJI TAFSIR – Ngaji Pasan 1438 H oleh KH M Sya’roni Ahmadi Kudus di Masjid Al Aqsha Menara Kudus pada Senin (05/06/2017) mengkaji surat Ali Imran ayat 21-25. Lima ayat tersebut menjelaskan tentang penistaan Yahudi terhadap kitab suci, nabi dan Allah SWT dan kisah penyimpangan mereka terhadap hukum rajam. Berikut kajiannya:

Surat Ali Imran ayat 21 – 22

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِآَيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَيَقْتُلُونَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (21) أُولَئِكَ الَّذِينَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ (22)

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memamg tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yg pedih. Mereka itu adalah orang-orang yang lenyap (pahala) amal-amalnya di dunia dan akhirat, dan mereka sekali-kali tidak memperoleh penolong.

Keberingasan Yahudi sangat luar biasa, tidak hanya mengkufuri isi kitab suci dengan merubah isinya tapi mereka juga membunuh para nabi mereka. Ada 43 nabi menjadi korban pembunuhan mereka. Tindakan mereka sempat dihalang-halangi oleh umat Islam Bani Israil namun mereka justru tambah beringas dengan membunuh 170 para pembela Nabi. Tidak hanya kepada nabi mereka menista, kepada Allah mereka juga merendahkanNya. Sebagaimana dalam Q.S. Ali Imran ayat 181:

لَقَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاءُ

“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan orang-orang yang mengatakan: “Sesunguhnya Allah miskin dan kami kaya.”

Allah SWT telah memberi peringatan kepada umat Islam untuk tidak mengikuti perilaku kaum Yahudi sebagaimana dalam Q.S. Al Ahzab ayat 69:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ آَذَوْا مُوسَى فَبَرَّأَهُ اللَّهُ مِمَّا قَالُوا وَكَانَ عِنْدَ اللَّهِ وَجِيهًا (69)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa; maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan adalah dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.”

Orang Yahudi zaman dulu biasa mandi telanjang bersama laki-laki dan perempuan di sungai. Nabi Musa tidak pernah mandi bersama mereka sebab Nabi Musa setiap mandi selalu menunggu mereka selesai baru Nabi Musa mandi. Hal ini membuat mereka penasaran dan menggoreng isu yang tidak benar. Mereka mengatakan bahwa Musa tidak mau mandi bersama karena malu testisnya besar (kondor-jawa). Isu tersebut semakin meluas dan orang–orang Yahudi mengejek Nabi Musa sehingga membuat hati Nabi Musa tidak tenang. Nabi Musa memohon kepada Allah agar terlepas dari isu miring.

Saat Nabi Musa mandi di sungai pakaiannya ditaruh di atas batu. Selesai mandi ia hendak mengambil pakaian tapi keanehan terjadi. Batu berlari membawa pakaian Nabi Musa dan Nabi Musa mengejarnya dalam keadaan telanjang melintasi halaman-halaman rumah kaum Yahudi. Atas kejadian itu kaum Yahudi tahu dengan pasti bahwa testis Nabi Musa tidak kondor.

Bani Isra’il itu anak cucu Isra’il. Sedangkan Isra’il adalah nama nabi Ya’qub yang nama aslinya Abdullah. Abdun dalam bahasa suryani “Isra” Allah dalam bahasa Suryani “iil”. Anak cucu nabi Ya’qub ada yang Islam dan ada yang kafir. Mayoritas mereka kafir yang disebut Yahudi dan hanya sedikit yang Islam dan disebut Bani Isra’il. Sebutan agama Yahudi muncul setelah mereka merubah isi Tauratnya Nabi Musa. Orang-orang sekitar Palestina sekarang yang kafir tidak mau disebut Yahudi tapi mereka lebih senang disebut Bani Isra’il. Mengenai keberangasan Yahudi, Kiai Sya’roni pernah mengalami pengalaman pahit. Bersama H. Nur Kholis Janggalan saat perjalanan Umrah beliau menyempatkan diri singgah ke Palestina untuk shalat di Masjidil Aqsha. Beliau sempat ditahan di Palestina oleh tentara Yahudi sampai setengah hari.

Besok di akhirat mereka tidak akan mendapati amal kebaikan mereka selama di dunia dan tidak ada yang menolong mereka ketika disiksa di neraka.

Baca juga ayat sebelumnya:
QS Ali Imran 1-6
QS Ali Imran 7-11

QS Ali Imran 12-15

Surat Ali Imran ayat 23 – 25

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُدْعَوْنَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرِيقٌ مِنْهُمْ وَهُمْ مُعْرِضُونَ (23) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ وَغَرَّهُمْ فِي دِينِهِمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ (24) فَكَيْفَ إِذَا جَمَعْنَاهُمْ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ (25)

“Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bahagian yaitu Al Kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum diantara mereka; kemudian sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran).Hal itu adalah karena mereka mengaku: “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung.” Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan. Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya. Dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri balasan apa yang diusahakannya sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan).”

Sebagian pemimpin Yahudi ada yang ketahuan melanggar aturan yaitu selingkuh (zina), kemudian diserahkan kepada Nabi Muhammad SAW dan oleh Nabi diberi putusan hukuman rajam. Mereka menolak dan meminta dihukum menurut ketentuan dalam kitab Taurat. Didatangkan pendeta Yahudi untuk membacakan Taurat, namun pendeta Yahudi membaca taurat tidak utuh. Ia melewati ayat yang menjelaskan tentang hukuman rajam. Hal ini diketahui dan diadukan oleh pendeta Yahudi yang telah masuk Islam kepada Rasulullah SAW. Lalu Rasulullah meminta kitab Taurat dan memerintahkan pendeta yang sudah Islam untuk membacanya dan ternyata dalam kitab Taurat pun menyatakan hukuman rajam. Mendengar demikian akhirnya mereka kabur.

Ketika Umat Islam mengancam kaum Yahudi bahwa kelak mereka akan mendapat siksaan yang sangat pedih di akhirat. Mereka membantah bahwa durasi siksaan mereka di akhirat hanya 40 hari saja sebagaimana jangka waktu kemusyrikan nenek moyang mereka lakukan saat ditinggal nabi Musa selama 40 hari atas perintah Allah ke gunung Tursina. Mereka menyekutukan Allah dengan menyembah anak sapi emas yang bisa berbicara buatan Musa Samiri. Musa Samiri adalah anak hasil perbuatan zina yang dibuang ibunya di tengah hutan. Ia tumbuh dewasa di bawah asuhan malaikat Jibril sehingga tahu rahasia bahwa tanah bekas telapak kuda malaikat Jibril bisa membuat benda mati menjadi hidup. Tanah bekas telapak kuda malaikat Jibril diusapkan ke mulut patung anak sapi dari emas dan patung anak sapi pun berbicara. “Musa salah mencari tuhannya. Tuhan ada di sini dia kok mencari sampai di gunung Tursina.” demikian hasudan Musa Samiri kepada para pengikut Nabi Musa. Sepulang dari Tursina nabi Musa murka dengan menggenggam jenggot nabi Harun saudaranya yang diberi amanat untuk menjaga, sehingga jenggot yang dipegang nabi Musa berwarna putih dan yang tidak tetap berwarna hitam.

Sebagai umat Islam wajib meyakini Allah telah menurunkan Taurat dan Injil, namun kita tidak wajib percaya bahwa Taurat dan Injil yang beredar sekarang masih orisinil belum ada tahrif (perubahan). Kita juga wajib meyakini bahwa hanya Islam adalah agama dari Allah, selain Islam adalah agama buatan atau gubahan manusia. Jangan sampai kita mengatakan “semua agama adalah benar”. (smc-777)

Komentar

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Silakan komentar