Ngaji Tafsir KH. Sya’roni Ahmadi; Penggunaan Sayyidina dalam Al Qur’an Ngaji Tafsir KH. Sya’roni Ahmadi; Penggunaan Sayyidina dalam Al Qur’an
Dibaca: 673 SANTRIMENARA.COM, NGAJI TAFSIR. Suara merdu pembacaan Al Qu’ran sudah dimulai. Para santri menara medengarkan dengan melihat tafsir  yang dibawanya dan aja juga yang... Ngaji Tafsir KH. Sya’roni Ahmadi; Penggunaan Sayyidina dalam Al Qur’an

SANTRIMENARA.COM, NGAJI TAFSIR. Suara merdu pembacaan Al Qu’ran sudah dimulai. Para santri menara medengarkan dengan melihat tafsir  yang dibawanya dan aja juga yang membuka Al Qur’an digital yang ada di smartphone miliknya. Ngaji Tafsir KH. Sya’roni Ahmadi menginjak pada ayat ke 37 Surat Ali Imran.

KH. Sya’roni Ahmadi pada Ayat 37 ini menjelaskan bahwa Maryam putri Imran sudah di didik oleh Nabi Zakariya dengan baik.  Setiap kali Nabi Zakariya memasuki Mihrab Masjid Al Aqsa Palestina,  Nabi Zakariya mendapatkan rezeki seperti buah buahan yang tidak biasa pada waktunya ada di tempat Maryam. Lalu Nabi Zakariya bertanya darimana rizki ini dan di jawab Maryam dari Allah SWT.  “Ada buah-buahan yang tidak seharunya ada pada musim itu, ada. Contohnya yang seharusnya ada di musim kering ada di tempat maryam pada musim hujan dan begitu sebaliknya,” terang Yai Sya’roni.

Pada ayat selanjutnya KH. Sya’roni Ahmadi menjelaskan tentang tempat dan waktu mustajab untuk berdoa. Untuk waktu mustajab adalah waktu mulai setelah jam 12 malam sampai sebelum fajar. Dan tempat tempat mustajab ada sebagian besar di Saudi Arabia. “Nanti kalau kita bisa Haji dan Umrah akan mengetahui dimana tempat mustajab itu seperti yang ada makka yakni maqom ibrahim dan lain sebagainya,” terangnya.

Kemudian di jelaskan KH. Sya’roni Ahmadi pada ayat 38 bahwa Nabi Zakariya berdoa kepada Allah SWT di mihrab Masjid Al Aqsa Palestina pada waktu malam untuk diberikan keturunan. Pada Ayat selanjutnya Allah SWT melalui Malaikat Jibril langsung menjawab doa dari Nabi Zakariya bahwa nanti akan diberi anak laki-laki, yang membenarkan kehadiran Nabi Isa dan juga menjadikannya seorang pemimpin, menjadi nabi yang bisa menahan diri dari hawa nafsu dan seorang nabi.

Pada ayat ini, KH. Sya’roni Ahmadi, menjelaskan tentang penggunaan kata Sayyidina. Dalam ayat ini jelas Nabi yahya di sebut sebagai Sayyid. Kata sayyid dalam bahasa arab memiliki arti dua yakni pertama Tuhan dan yang kedua adalah seorang pemimpin. “Dalam ayat ini jelas Allah SWT menggunakan kata sayyid sebagai seorang pemimpin. Begitu juga dengan gelar sayyid pada Nabi Muhammad SAW. Kalau dibilang penggunakan kata sayyid, itu tidak boleh maka bisa baca ayat ini,” jelas Mbah Sya’roni.

Pada ayat selanjutnya KH. Sya’roni Ahmadi menerangkan bahwa setelah terkabulnya doa Nabi Zakariya, Zakariya merasa gelisah karena Nabi Zakariya sudah berumur 120 tahun. Sedangkan istrinya juga sudah tua dengan umur 98 tahun. “Malaikat jibril menyampaikan bahwa Allah bisa semua hal, termasuk bisa merubah istri Nabi Zakariyya menjadi wanita yang masih perawan,” terangnya.

Lalu Nabi Zakariyyah minta petunjuuk jika memang istrinya hamil. Dan dijawab oleh Allah SWT bahwa nanti kamu tidak akan bisa bicara selama tiga hari kecuali hanya bisa memberi isyarat. Serta Nabi Zakariya diperintahkan untuk memperbanyak beribadah di waktu siang dan malam.

Selanjutnya Allah memilih Maryam dan menjadikannya tidak tersentuh laki-laki serta menjadikannya perempuan utama di dunia. “Maryam tidak memiliki suami tapi diberikan anak yakni Nabi Isa AS, dan nanti akan menjadi istri dari Nabi Muhammad SAW, sehingga Nabi Isa adalah anaknya Nabi Muhammad SAW,” terang KH. Sya’roni Ahmadi. (SMC-199)

Komentar

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Silakan komentar