Ngaji Tafsir KH. Sya’roni Ahmadi; Kisah Batu dari Surga Ngaji Tafsir KH. Sya’roni Ahmadi; Kisah Batu dari Surga
Dibaca: 500 SANTRIMENARA.COM, NGAJI TAFSIR. Pengajikan KH. Sya’roni Ahmadi bulan Ramadan 1438 H masuk pada hari terakhir yakni pada Sabtu 17 Juni 2017. Dalam... Ngaji Tafsir KH. Sya’roni Ahmadi; Kisah Batu dari Surga

SANTRIMENARA.COM, NGAJI TAFSIR. Pengajikan KH. Sya’roni Ahmadi bulan Ramadan 1438 H masuk pada hari terakhir yakni pada Sabtu 17 Juni 2017. Dalam penjelasannya Yai memulai dengan ayat ke 92 surat Ali Imran. Dalam ayat tersebut, menjelaskan anjuran pentingnya sedekah baik sedekah wajib yakni zakat atau sedekah sunnah yakni selain zakat. Ayat sedekah diulang-ulang dalam Al Qur’an ini karena manusia suka dengan harta sampai luar biasa.

Dalam ayat ini KH. Sya’roni Ahmadi menjelaskan bahwa tidak akan diberi pahala (kebagusan), sehingga manusia mau mensedekahkan harta yang disukainya. Ketika manusia melakukannya, maka Allah mengetahuinya. “Mengetahuinya adalah memberi pahala kepada orang yang sedekah,” terang KH. Sya’roni Ahmadi.

Ayat ke 93 menjelaskan tentang orang yahudi yang menghina Nabi Muhammad SAW bahwa kalau Nabi mengikuti Nabi Ibrahim seharusnya nabi tidak memakan daging dan minum susu unta. Padahal Nabi Ibrahim makan daging unta dan minum susu unta. Nabi yang tidak memakan daging dan minum susu unta adalah Nabi Ya’qub yang terkena penyakit otot di paha. Selanjutnya Nabi Ya’qub nazar kalau sudah sembuh tidak akan makan daging unta dan minum susu unta.

“Semua makanan halal bagi Bani Israil kecuali makanan yang di haramkan kepada Nabi Ya’qub sebelum turunnya Taurat. Nabi ibrahim tidak mengharamkan makan daging unta dan minum susu unta. Lalu Nabi diperintahkan untuk mengatakannya kepada yahudi, bawakan Kitab Taurat untuk kita baca bersama sama jika ada ayat yang mengatakan Nabi Ibrahim mengharamkan daging dan susu unta. Lalu Yahudi bingung tidak bisa menjawab,” terang KH. Sya’roni Ahmadi

Pada ayat ke 94, Mbah Sya’roni menjelaskan bahwa orang yang membuat perkataan bohong  yang menyebutkan Nabi Ibrahim tidak makan unta dan minum susu unta maka mereka termasuk orang yang dholim atau melebihi batas. Pada ayat 95 dijelaskan bahwa Nabi Muhammad diperintahkan untuk menyampaikan bahwa kebenaran ada di Allah SWT, maka masuklah islam dengan sungguh-sungguh dan tidak ada Nabi Ibrahim itu orang musyrik.

Pada ayat ke 96 ini dijelaskan bahwa yahudi kalau beribadah menghadap baital muqoddas sedangkan umat islam menghadap ka’bah. Yahudi mengatakan bahwa baital muqoddas lebih dulu dari pada ka’bah. Maka turunlah ayat ini yang mengatakan bahwa tempat ibadah yang pertama kali adalah tempat ibadah yang ada di Bakkah (Mekah) yakni Ka’bah, tempat yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.

Pada ayat selanjutnya dijelaskan bahwa di makkah banyak tempat yang dimulyakan salah satunya adalah maqam ibrahim. Maqam ibrahim bukan kuburan nabi Ibrahim namun adalah batu dari surga  yang dibuat pijakan ketika membangun Ka’bah setelah rusak akibat banjir bandang ketika Nabi Nuh. “Ada yang istimewa dalam cerita ini, yakni telapak kaki Nabi Ibrahim membekas di Maqam Ibrahim. Tempat ini juga menjadi tempat terhormat untuk beribadah,” terang KH. Sya’roni Ahmadi. (SMC-199)

Komentar

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Silakan komentar