Ngaji KH. Sya’roni Ahmadi Ramadan 1438 Dimulai Ngaji KH. Sya’roni Ahmadi Ramadan 1438 Dimulai
Dibaca: 501 SANTRIMENARA.COM, NGAJI TAFSIR. Pengajian Rutin selama Ramadan yang menjadi kegiatan rutin di Masjid Al Aqsa Menara Kudus sudah di mulai hari ini,... Ngaji KH. Sya’roni Ahmadi Ramadan 1438 Dimulai

SANTRIMENARA.COM, NGAJI TAFSIR. Pengajian Rutin selama Ramadan yang menjadi kegiatan rutin di Masjid Al Aqsa Menara Kudus sudah di mulai hari ini, Rabu 31 Mei 2017. Kegiatan dimulai setelah shubuh ini menjadi salah satu pengajian yang ditunggu oleh warga Kudus dan sekitar. Setiap hari ribuan orang khusuk ngaji dengan ulama ahli tafsir ini.

Pengajian pada Ramadan kali ini dimulai dengan surat Al Baqarah Ayat 284 sampai dengan ayat 286. Ayat ini juga menunjukkan ayat terakhir dalam surat tersebut. Dalam penjelasannya KH. Sya’roni Ahmadi, ayat ini biasa di pakai oleh ulama sebagai salah satu bagian dari pembacaan tahlil.

“Siapa yang mau membaca ketiga ayat ini yakni ayat ke 284 sampai 286 pada Surat Al Baqarah di rumah maka akan dijaga rumah tersebut dari godaan syetan selama tiga hari,” dawuh kakek Gus Feri, alumnus Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS).

Pada ayat 284 ini, KH. Sya’roni Ahmadi menjelaskan bahwa Allah SWT adalah Dzat pemilik alam, semua alam termasuk yang ada di dalamnya. Dijelaskan dalam Hadist Qudsi bahwa Sombong itu hanya milik Allah karena memiliki semua alam dan barang siapa yang merebutnya maka akan ditumpas.

Melanjutkan ayat tersebut, KH. Sya’roni Ahmadi menjelaskan tentang beristighfar. “Kebanyakan imam-imam masjid setelah shalat langsung mengucapkan istighfar. Hal ini untuk menjaga kalau saja waktu menjalani shalat ada hal hal yang kurang pas. Tidak lupa setelah istigfar juga meminta kepada Allah untuk diterima shalat dan amal-amal baik lainnya,” terangnya.

Ada cerita waktu santri sahabat Abdullah bin Abbas datang ke Sahabat Ali Karamallahu Wajhah. Santri bertanya,” Pak ali, Anda adalah Babul Ilmi. Guru saya Pak Abdullah bin Abbas sudah meninggal. Saya pernah tanya tentang 3 hal. Pertama, Amal apa yang paling baik? Kedua, Bulan apa yang paling mulya dan ketiga, hari apa yang paling baik. Guru saya menjawab bahwa amal yang paling baik adalah shalat diawal waktu, bulan yang mulya adalah bulan Ramadan dan hari yang paling baik adalah hari Jum’at. Lalu apakah jawaban tersebut sudah benar?”

Lalu Sahabat Ali menjawab kebanyakan ulama akan menjawab sama dengan sahabat Abdullah. Namun saya ada jawaban dengan jawaban yang berbeda untuk pertanyaan tersebut. Menurut Sahabat Ali, Amal yang paling baik adalah amal yang diterima, bulan yang baik adalah bulan dimana kamu selalu beristighfar dan hari yang baik adalah hari dimana kamu meninggal dengan keadaan iman.

Menurut KH. Sya’roni Ahmadi jawaban kedua sahabat tersebut adalah benar namun untuk bisa menyelaraskan kedua pendapat tersebut maka jawaban menurut saya adalah amal yang paling baik adalah shalat awal waktu yang diterima, bulan yang paling baik adalah bulan Ramadan yang dipakai istighfar dan hari yang paling baik adalah ketika kita meninggal pada hari Jum’at dengan keadaan iman.  (SMC-199)

Komentar

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Silakan komentar