Menggugat Full Day School Sebagai Solusi Pendidikan Karakter Menggugat Full Day School Sebagai Solusi Pendidikan Karakter
Dibaca: 728 Oleh Budi Ariyanto SANTRIMENARA.COM, OPINI – Wacana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia Prof. Dr. Muhadjhir Effendi untuk menerapkan sistem Full... Menggugat Full Day School Sebagai Solusi Pendidikan Karakter

Oleh Budi Ariyanto

SANTRIMENARA.COM, OPINI – Wacana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia Prof. Dr. Muhadjhir Effendi untuk menerapkan sistem Full Day School (sekolah sehari penuh) untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) menuai beragam respon, baik dari kalangan pakar pendidikan, pejabat publik, orangtua hingga siswa.

Sebagian banyak menganggap ide tersebut justru akan mengganggu psikologis anak. Bukannya nilai-nilai karakter yang didapat melainkan kejenuhan, dan berakumulasi pada kondisi stres.

Gagasan di atas sebenarnya merupakan tawaran solusi atas kegelisahan bangsa kita menghadapi masalah moralitas anak yang semakin rendah. Kita tidak bisa menutup mata bahwa masalah tersebut merupakan salah satu masalah paling penting di negeri ini untuk dicarikan solusi bersama.

Dasar dari rencana Mendikbud menerapkan Full Day School tersebut adalah anak-anak rawan dengan kesalahan pergaulan sepulang dari sekolah dan tidak memperoleh kontrol dari orangtua karena belum pulang kerja.

Sebenarnya, semangat Mendikbud memikirkan pembangunan karakter anak patut diapresiasi. Namun, sebelum diutarakan ke publik, sepatutnya gagasan tersebut dikaji secara mendalam dulu supaya tidak terjadi “kegaduhan” yang justru kontraproduktif.

Tantangan Berat Pendidikan Indonesia

Sebagai bangsa yang beragam, tantangan Mendikbud merumuskan sistem pendidikan yang ideal sesungguhnya sangat sulit. Merumuskan standardisasi pendidikan pada keadaan ini bukan perkara mudah.

Pada sisi lain, sebenarnya pendidikan kita memang tidak bisa dan tidak boleh diseragamkan. Namun, ada hal yang memiliki kemiripan dampak dimanapun berada, yaitu pengaruh negatif dari era informasi.

Terbukanya arus informasi dewasa ini sebagian besar masih menjadi beban daripada solusi sosial. Rendahnya pendidikan orangtua akan perkembangan era tersebut seringkali disalahgunakan oleh anak.

Kasus-kasus pelecehan seksual, pemerkosaan anak dibawah umur, bully, hingga pembunuhan seringkali disebabkan karena anak mengkonsumsi dan mengolah informasi dari smartphone mereka tanpa filter dan pencerahan dari orangtua.

Selain itu, rendahnya perhatian orangtua dan guru terhadap anak juga menjadi faktor krusial akan lemahnya karakter anak. Kerasnya tantangan kehidupan, minimnya waktu di rumah dan gaji yang sedikit selalu menjadi alasan klasik oleh orangtua dan guru sebagai pembenaran diri atas lemahnya perhatian.

Padahal, kedua komponen tersebut merupakan bagian dari stakeholder yang semestinya bisa diandalkan dalam menyukseskan cita-cita pendidikan karakter kita.

Tawaran Solusi

Menumbuhkan anak-anak yang berkarakter di tengah tantangan zaman yang semakin sulit adalah suatu keniscayaan bangsa. Bagaimana nasib bangsa ini jika calon generasi penerusnya banyak yang menanggung beban-beban psikologis moral, baik sebagai pelaku maupun korban.

Keduanya sama-sama rugi dan berpotensi merugikan lebih banyak lagi anak bangsa lainnya. Maka, sebelum hal tersebut semakin menjadi-jadi, dibutuhkan sebuah tekat dan kemauan kuat dari semua pihak. Untuk mencegah dan menekan potensi buruknya karakter anak, dalam pandangan penulis ada tiga hal yang paling mendesak untuk dilakukan.

Pertama, orangtua dan guru sebaiknya melakukan evaluasi diri terutama dalam hal kepedulian mereka terhadap anak. Umumnya, baik guru maupun orangtua melakukan kesalahan justru pada usaha mereka memberikan kepedulian tersebut. Namun mereka tidak menyadarinya.

Salah satu kesalahan tersebut terletak pada pendekatan yang dipakai, yaitu instruktif-pasif bukan persuasif-dialogis. Anak bukan robot yang dapat diperintah dengan apa saja tanpa difahami keadaan mereka. Mereka memiliki akal dan jiwa. Sehingga menginternalisasi nilai-nilai karakter kepada mereka semestinya melalui dialog dan cara-cara yang humanis sesuai dengan tahapan perkembangan mereka.

Kedua, meningkatkan ilmu keorangtuaan (parentitng). Bagaimana orangtua mengasuh, mendidik dan mendampingi anak, sementara mereka tidak tahu tahapan perkembangan anak (mulai dari nilai-nilai agama dan moral, sosial-emosional, kognitif, bahasa serta seni), mereka juga menutup diri dari mengenali psikologis dan tipe-tipe anak.

Ibarat anak adalah bunga teratai, mereka diperlakuan seperti bunga mawar pada media tanamnya yakni menggunakan tanah. Bagaimana teratai akan tumbuh dan berbunga jika bertahan hidup saja sulit. Sama halnya anak, bagaimana mereka akan tumbuh dan berkembang jika stimulan yang diberikan oleh orangtua salah. Bagaimana bisa anak menumbuhkan bunga karakter jika keadaannya seperti itu.

Parenting bukan ilmu warisan. Namun ia terwariskan begitu saja. Kebanyakan orangtua tidak menganggap penting hal ini, sehingga mereka tidak mau menggalinya. Akhirnya, perlakuan mereka terhadap anak seringkali berjalan di bawah alam sadar menirukan semua gaya lama.

Padahal, cara-cara lama tidak semuanya sesuai dengan tantangan zaman saat ini. Sampai di sini, kita bisa menggunakan nasehat sahabat Ali bahwa anak kita mempunyai tantangan dan zamannya sendiri-sendiri, sehingga tidak bijak kalau kita menyamakan semua cara mengasuhnya tanpa mengkontekstualisasikannya terlebih dahulu.

Terakhir, mengintegrasikan rumah dan sekolah. Kelemahan sistem pendidikan kita adalah terputusnya nilai di sekolah dan di rumah, atau sebaliknya. Baik sekolah maupun rumah memiliki kurikulum masing-masing.

Sebenarnya jenjang pendidikan pra-sekolah (PAUD) bisa dijadikan contoh. Sistem kartu penghubung anak antara orangtua dan sekolah dapat diadopsi dan dikembangkan.

Di era informasi, sekolah bisa memaksimalkan smartphone sebagai solusi komunikasi guru kelas dan seluruh wali siswa mengenai perkembanagn anaknya melalui group-group media komunikasi. Banyak keuntungan melakukan hal tersebut, salah satunya orang tua menjadi melek teknologi sehingga bisa mencegah diri dari potensi “dibohongi” anak.

Full Day School sebagai gagasan mencegah anak dari pergaulan salah sekaligus membangun karakter mereka masih perlu terus dikaji. Membangun sistem pendidikan baru semestinya tidak mengganggu apalagi mengalahkan sistem-sistem yang lain, baik itu sistem sosial, budaya, terlebih sistem pendidikan lainnya yang sudah memberikan sumbangsih besar terhadap pembangunan karakter bangsa ini seperti madrasah diniyyah, TPQ, pesantren dan lain sebagainya. (edited-212)

Budi Ariyanto, pemerhati Pendidikan Anak, tinggal di Yogyakarta

Komentar
  • yasfin

    11/08/2016 #1 Author

    Setiap ganti menteri ganti pula peraturan. Seakan akan anak didik hanya kelinci percobaan. Kalau pengin Full Day ya jangan setengah-setengah. Bilangnya Full Day kok sampai sore saja. Sekalian saja mondok di pesantren yang sudah terbukti berabad-abad membentuk karakter anak bangsa. Sebelumnya, Gubernur Jateng sudah pernah melontarkan wacana itu. Tapi ditolak oleh masyarakat. Ini baru dilantik kok sudah bikin gaduh…..

  • Budi Ariyanto

    12/08/2016 #2 Author

    Zamannya cari tenar, barangkali ia sdh terlambat tenar d kalangan pelajar. Maka, begitu dpt kesempatan lgsg berstatement yg dugaanku ia sendiri tdk memahami reaksi publik kemudian. Komunikasi politiknya krg yes bpk ini.
    Jika saja ia menambahkan tentang rencana wilayah dan gambaran solusi yg menjanjikan serta logis masyarakat sy fikir tdk akan reaktif emosional. Ttpi jatuhnya akan berfikir dan berdiskusi dg nalar kritis.

Silakan komentar