Kurban Kerbau, Belajar Mudarah Dari Larangan Sunan Kudus Menyembelih Sapi Kurban Kerbau, Belajar Mudarah Dari Larangan Sunan Kudus Menyembelih Sapi
Dibaca: 2.535 SANTRIMENARA.COM, KUDUS – Kurban kerbau memang tidak lazim di luar daerah Kudus, demikian juga sebaliknya kurban sapi adalah hal yang ganjil terjadi... Kurban Kerbau, Belajar Mudarah Dari Larangan Sunan Kudus Menyembelih Sapi

SANTRIMENARA.COM, KUDUS – Kurban kerbau memang tidak lazim di luar daerah Kudus, demikian juga sebaliknya kurban sapi adalah hal yang ganjil terjadi di Kudus. Warga Muslim Kudus sampai saat ini masih enggan berkurban sapi. Kebanyakan mereka berkurban kambing atau kerbau yang harganya reatif lebih mahal dari harga sapi karena mengindahkan “dawuh” Kanjeng Sunan Kudus yang melarang warga Kudus untuk menyembelih sapi. Kalaupun ada masyarakat Kudus yang berkurban sapi pada hari kurban biasanya adalah orang luar daerah Kudus yang menetap di Kudus atau kelompok masyarakat yang sudah tidak lagi menjaga tradisi ini.

Larangan menyembelih sapi oleh Sunan Kudus pada saat itu sangatlah beralasan. Pada awal datangnya Islam di Kudus sebagian besar masyarakat Kudus masih memeluk agama Hindu dan sebagian lainnya beragama Budha. Dalam kepercayaan umat Hindu, sapi adalah binatang yang sangat dihormati dan dimuliakan. Meski dalam Islam menyembelih sapi adalah hal yang dihalalkan, tapi untuk menjaga perasaan umat Hindu yang tinggal di Kudus saat itu dan menghindari terjadinya pertumpahan darah antar umat beragama, Sunan Kudus melarang masyarakat Kudus menyembelih sapi. Terlebih isu agama adalah isu yang paling rentan memicu pertikaian antar umat beragama. Hingga sekarang masyarakat Kudus masih menghormati larangan itu meski sebagian besar masyarakatnya sudah beragama Islam. Hal ini mereka lakukan untuk melestarikan pesan yang tersirat dari larangan tersebut.

Melalui larangan menyembelih sapi, Sunan Kudus meninggalkan pesan mudarah terhadap siapa saja termasuk terhadap non muslim yang telah diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala sebagaimana riwayat ‘Aisyah Radliyallah ‘Anha bahwa Rasulullah Shallallhu ‘Alayhi Wasallam bersabda:

إنَّ اللهَ أمَرَنِيْ بِمُدَارَاةِ النَّاسِ كَمَا أَمَرَنِيْ بِإقَامَةِ الْفَرَائِضِ

“Sesungguhnya Allah memerintahkan aku agar mudarah kepada manusia sebagaimana aku diperintahkan untuk menegakkan (menjalankan) semua kewajiban-kewajiban.” (HR. Al-Dailami).

Mudarah adalah beramah-tamah dengan orang lain, berhubungan dengan cara yang baik, dan bersabar menghadapi gangguan mereka, agar mereka tidak menjauh darimu. Dalam Fath al Bary disebutkan bahwa Ibnu Baththal menyatakan Mudarah adalah akhlak orang-orang mukmin, yaitu bersikap rendah hati kepada manusia, berbicara dengan lemah lembut dan meninggalkan sikap keras terhadap manusia. Dan ini merupakan sebab terkuat menuju persatuan.

Dalam istilah jawa kita mengenal Tepa Salira yaitu dapat merasakan (menjaga) perasaan (beban pikiran) orang lain sehingga tidak menyinggung perasaan atau dapat meringankan beban orang lain. Sunan Kudus memahami benar perasaan warga Kudus yang saat itu masih banyak penganut Hindu akan luka hatinya apabila hewan yang mereka muliakan disembelih oleh umat Islam. Kanjeng Sunan lebih memilih menghindari kerusakan dari pada meraih kebaikan. Dengan metode dakwahnya ini Sunan Kudus telah berhasil mengambil hati warga Kudus. Dengan mengikat seekor sapi bernama Kebo Gumarang di halaman masjid orang-orang berbondong-bondong datang ke masjid. Awalnya mereka datang karena penasaran terhadap sapi langka tersebut. Saat orang-orang sudah ramai berkumpul di halaman masjid Sunan Kudus memulai dakwahnya dengan memberikan penjelasan tentang surat Al Baqarah yang berarti “Sapi Betina”. Pada hari raya Idul Adlha di zaman Sunan Kudus sapi-sapi hanya diikat di sekitar Masjid Al Aqsha Menara Kudus dan tidak ada yang disembelih. Hanya kerbau dan kambing yang dipotong untuk hewan kurban. Pendekatan Sunan Kudus ini telah terbukti efektif, banyak penganut Hindu pada saat itu yang berpindah akidah menjadi seorang Muslim.

Mudarah yang dilakukan oleh Sunan Kudus adalah dalam rangka menjaga kelangsungan agama Islam dan menghindari pertikaian. Bukan Mudahanah yaitu mengorbankan agama demi kemashlahatan dunia. Orang yang melakukan mudarah terhadap non muslim akan berlemah lembut dalam pergaulan tanpa meninggalkan sedikitpun prinsip agamanya. Sedang orang yang melakukan mudahanah akan berusaha menarik simpati orang lain dengan cara apapun untuk meraih keuntungan duniawi dan meninggalkan sebagian prinsip agamanya. Agama harus didakwahkan dengan mudarah, namun kehormatan agama juga harus pertahankan. (smc-777)

Komentar

Silakan komentar