KH. Amir Idris: Pendiri Pondok Pesantren Pertama di Pekalongan KH. Amir Idris: Pendiri Pondok Pesantren Pertama di Pekalongan
Dibaca: 1.124 SANTRIMENARA.COM, PEKALONGAN – Dalam sejarahnya, banyak kiai Kudus yang pernah ngangsu kaweruh hingga ke Pekalongan. Salah satunya adalah waliyyullah Syeikh KH. Yasin... KH. Amir Idris: Pendiri Pondok Pesantren Pertama di Pekalongan

SANTRIMENARA.COM, PEKALONGAN – Dalam sejarahnya, banyak kiai Kudus yang pernah ngangsu kaweruh hingga ke Pekalongan. Salah satunya adalah waliyyullah Syeikh KH. Yasin Bareng dan KH. Muhammadun Pondowan. Beliau berdua mengambil ijazah Dalail al-Khairat di desa Simbang, yaitu di pondok KH. Amir Idris. Berikut ini adalah biografi KH. Amir Idris Pekalongan:
A. Masa Kecil
Muhammad Amir adalah nama kecil dari KH. Amir Idris yang merupakan putra dari pasangan KH. Idris dan Nyai Soimah. Beliau lahir di Desa Mundu, Cirebon pada tahun 1294 H/1875 M. Semenjak kecil beliau mengaji kepada sang ibunda, yaitu Nyai Soimah, beliau diajari membaca Al-Qur’an, Safinah, Sulam Taufiq, dan lain-lain. Ketika beliau disuruh sang ayah membaca Al-Qur’an ternyata belum lancar, akhirnya oleh sang ayah, beliau dihajar dan dipukul. Kejadian tersebut menjadikan beliau pergi dari rumah, tidak akan pulang dan mengaji, jika tidak diberangkatkan ke Mekkah.
B. Menuntut Ilmu ke Makkah
Setibanya di Makkah beliau menjadi seorang yang rajin dalam mendalami ilmu. Untuk membiayai kehidupannya, beliau menjadi juru masak teman-temannya karena kedua orang tua tidak mampu memberi uang kepada beliau. Beliau tidak mempunyai kitab, beliau meminjam kitab dari teman-temannya, akan tetapi semua itu tidak menjadikan beliau kehilangan semangat dalam mencari ilmu.
Diantara guru-guru beliau (Kyai Amir) di Mekkah adalah Kyai Mahfudh Termas, Kyai As’ad Tegal, Kyai Abbas Brebes, Kyai Masduki Cirebon, dan Kyai Nahrowi Banyumas. Semuanya adalah ulama’-ulama’ Indonesia yang mukim di Makkah.
Tentu saja semua itu tidak terlepas dari pengajaran dasar yang ditanamkan pada dada Kyai Amir yang diperoleh dari Ibu Nyai Soimah dan Kyai Idris, yang susah payah menjual sebidang tanah untuk memberangkatkan Kyai Amir ke Mekkah
C. Dari Makkah ke Pelaminan
Setelah cukup lama di Makkah, beliau disuruh pulang ke tanah air untuk dinikahkan dengan Nyai Sukainah puteri Kyai Usman Gedongan Indrapura Cirebon. Dari pernikahannya dengan Nyai Sukainah tidak dikaruniai keturunan dan berakhir dengan perceraian secara baik-baik.
Beliau menikah untuk kedua kali dengan puteri Kyai Sholeh Darat Semarang yang bernama R.A Zahro (janda dari Kyai Raden Dahlan Termas). Pernikahan ini dilaksanakan di Makkah atas perintah Kyai Sholeh Darat dan Syaikh Mahfudh Termas. Dari pernikahan dengan Nyai R.A Zahro, beliau dikaruniai seorang puteri bernama Siti Aisyah.
Setelah pulang dari Makkah Kyai Amir diminta oleh Kyai Sholeh Darat untuk membantu mengasuh Pondok Pesantren Darat Semarang, bekas peninggalan Kyai Murtadlo. Cukup lama Kyai Amir bermukim di Darat Semarang sampai Kyai Sholeh wafat tahun 1903 M. Tidak berselang lama istri Kyai Amir, yaitu Nyai R.A Zahro bin Kyai Sholeh Darat pun wafat. Setelah ditinggal wafat istri, Kyai Amir sering sakit-sakitan sehingga dengan berat hati Kyai Amir beserta puterinya Siti Aisyah pindah dari Semarang ke Pekalongan dan mendirikan pondok di Pekalongan, tepatnya di Desa Simbang Kulon.
D. KH. Amir Idris Wafat
K.H Amir Idris wafat pada tanggal 8 Rabiul Akhir 1357 H atau tahun 1938 M pada usia 63 tahun tepatnya pada jam 12.25 istiwa’, pada saat itu jam di musholla, pondok, dan rumah beliau pun ikut mati dan anehnya jam-jam tersebut tidak dapat diperbaiki sampai sekarang.
Beliau dimakamkan di pemakaman Banyurip Ageng, Pekalongan Selatan (pemakaman depan Masjid Jami’ Banyurip Ageng). Demikian dikutip dari Buletin Atsar yang diterbitkan oleh Madrasah Aliyah Salafiyah Simbang Kulon, Edisi 006 tahun 2005.

Sayangnya, menurut pantauan santrimenara.com pada Kamis (28/7), pondok KH. Amir menjadi yang berada di atas musholla sudah tidak ada. “Sudah dipugar. Dulu di atasnya panggung (tidak beton, terbuat dari papan kayu),” ujar Nur, salah satu warga Simbang.” Yang tersisa tinggal Madrasah Diniyah dan Taman Pendidikan al-Qur’an sampai sekarang. (smc-025).

Komentar

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Silakan komentar