Gus Ghofur Menanggapi Ayat Kursi Langgam Jawanya Sujiwo Tejo Saat Suluk Maleman Gus Ghofur Menanggapi Ayat Kursi Langgam Jawanya Sujiwo Tejo Saat Suluk Maleman
Dibaca: 3.205 SANTRIMENARA.COM, PATI – Suluk Maleman edisi bulan September 2016 diselenggarakan pada Sabtu, 17 September 2016 dengan mengangkat tema “Manusia Tuhan” di Rumah... Gus Ghofur Menanggapi Ayat Kursi Langgam Jawanya Sujiwo Tejo Saat Suluk Maleman

SANTRIMENARA.COM, PATI – Suluk Maleman edisi bulan September 2016 diselenggarakan pada Sabtu, 17 September 2016 dengan mengangkat tema “Manusia Tuhan” di Rumah Adab Indonesia Mulia Jalan P. Diponegoro No 94, Pati dimulai pada pukul 19.30 WIB.

Acara yang dipandu oleh budayawan asal Pati, Habib Anis Sholeh Ba’asyin edisi kali ini mendatangkan tokoh dari berbagai elemen diantaranya adalah Dr. KH. Abdul Ghofur Maimoen (kiai dan cendekiawan), Sujiwo Tejo (budayawan), Drs. Ilyas, M.Ag (akademisi), Gus Burhan (pengasuh pengajian metal Solo).

Setelah memberikan prolog, Habib Anis memberikan kesempatan pertama kepada Sujiwo Tejo untuk memberikan uraiannya tentang Manusia Tuhan. Presiden Dancuker ini tidak menyampaikan uraian apapun hanya membaca ayat 285 yaitu ayat terakhir dari Q.S. Al Baqarah dan ayat 255 dari surat yang sama yang lebih dikenal dengan istilah ayat kursi dengan iringan gamelan Sampak GusUran menggunakan langgam jawa.

Dalam kesempatan berikutnya Gus Ghofur mencoba menjelaskan kepada pengunjung yang hadir ayat yang dibacakan oleh Kang Tejo. Ayat pertama berbicara tentang kodrat manusia sebagai makhluk yang lemah sehingga Allah tidak memberi beban kepadanya lebih dari kemampuannya, sedangkan ayat kedua yaitu ayat kursi berbicara tentang keagungan Allah yang tanpa kekurangan apapun. “Ayat pertama dan kedua sangat bertentangan dan mustahil untuk disatukan. Penyebutan Manusia Tuhan hanyalah upaya untuk mendekatkan kembali. Mustahil manusia bisa menyatu dengan Tuhannya. Allah dengan segala kesempurnaannya dan manusia dengan segalanya kekurangannya disatukan dalam ungkapan Manusia Tuhan atau Insan Kamil itu hanya kalimat majaz.” jelas putra Kiai Maimoen Zubair Sarang.

Insan Kamil menurut ahli sufi hanya ada satu terjadi dalam satu kurun. Hanya dia yang berhak menyalahkan orang lain, namun ketika berhadapan dengan Allah doa seorang Insan Kamil tetap menggunakan doa “la yukallifullah nafsan illa wus’aha”. Fenomena saat ini orang belum sampai tingkatan Insan Kamil sudah memposisikan dirinya sebagai Tuhan hingga dengan mudah menjatuhkan vonis salah kepada orang lain. Banyak jalan untuk mendekat kepada Allah. Ada orang yang mendekatkan diri kepada Allah dengan perasaannya, tapi perasaan jika dibiarkan tanpa norma akan menjadi liar. Ahli hikmah yang menuhan atau Manusia Tuhan menurut At Tirmidzy ketika sudah mencapai pada tingkatan sempurna akan melihat apapun dengan pandangan positif. Melihat orang yang melakukan kesalahan mengingatkan akan kesalahan dirinya.

Doktor lulusan Universitas Al Azhar Mesir ini juga mengulas surat Al Kafirun yang sebelumnya juga telah dibaca oleh Sujiwo Tejo. Surat Al Kafirun sebenarnya adalah surat marah. Sebagai manusia kita boleh marah tapi jangan sampai emosi, karena kalau manusia dikuasai oleh emosi berarti dia sudah kalah pada dirinya sendiri. Orang yang tidak cocok dengan orang lain harus bisa menyampaikan pada hal apa dia tidak suka. Al Qur’an saja menyampaikan hal positif dari Ratu Bilqis saat Bilqis belum menjadi pengikut Nabi Sulaiman AS. Demikian juga saat umat Islam hijrah ke Habasyah karena mendapat tekanan dari kuffar Makah. Nabi Muhammad SAW juga menyampaikan sisi positif dari Raja Habasyah sebagai raja yang tidak pernah mendzalimi rakyatnya meskipun saat itu rajanya masih kafir.

Drs. Ilyas, M.Ag yang akrab dengan panggilan Kang Ilyas pada kesempatan berikutnya mengajak yang hadir untuk memainkan peran sebagai diri sendiri dan harus percaya diri, tidak perlu memaksakan diri menjadi orang lain. Problem generasi bangsa saat ini adalah murid yang tidak bisa menghargai gurunya. Lebih lanjut dosen UNNES ini mengingatkan kepada orang tua jangan sekali-kali mendatangkan guru privat ke rumah untuk anak-anaknya. Walaupun sedikit repot mengantar anak ke rumah sang guru, itu adalah pendidikan kepada anak untuk belajar menjadi seorang murid.

Pada sesi terakhir tanya jawab Gus Ghofur menyampaikan tentang hukum membaca Al Qur’an dengan langgam jawa dan iringan gamelan. Membaca Al Qur’an dengan langgam jawa atau dengan langgam lainnya bukanlah suatu masalah. Yang tidak diperbolehkan adalah ketika dalam melanggamkannya ada kesan menghina atau merendahkan. Musikalisasi bacaan Al Qur’an bagi anggota Tim Majlis Fatwa MUI Pusat ini menyatakan ada perbedaan pendapat di antara ulama. Sampai saat ini di Tim Majlis Fatwa MUI pun masih menjadi perdebatan. (smc-777)

Komentar

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Silakan komentar