Gus Dur: Kiai Diplomasi, Demokrasi, dan Anti Diskriminasi Gus Dur: Kiai Diplomasi, Demokrasi, dan Anti Diskriminasi
Dibaca: 565 Oleh Arief Azizy KH Abdurrahman Wahid, dilahirkan di Denayar Jombang Jawa Timur pada tanggal 4 Agustus 1940 dengan nama Abdurrahman addakhil atau... Gus Dur: Kiai Diplomasi, Demokrasi, dan Anti Diskriminasi

Oleh Arief Azizy

KH Abdurrahman Wahid, dilahirkan di Denayar Jombang Jawa Timur pada tanggal 4 Agustus 1940 dengan nama Abdurrahman addakhil atau “sang penakhluk”, sebuah nama yang di ambil orang tuanya, KH. Wahid Hasyim yang diambil dari seorang perintis Dinasti Umayyah yang menancapkan tonggak kejayaan Islam di Andalusia.

Kata addakhil tidak begitu dikenal, sehingga diganti dengan nama “Wahid”, merujuk pada nama ayahnya sehingga menjadi Abdurrahman Wahid. Namun lebih populer dengan sebutan “Gus Dur”. Sedang “Gus” adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada anak seorang kiai.

Gus Dur lahir dari kalangan keluarga yang sangat dihormati dikalangan komunitas muslim Jawa Timur. Ia adalah anak pertama dari 6 bersaudara dari pasangan Wahid Hasyim dan Hj. Solehah, ayahnya adalah putra dari KH. Hasyim Asy’ari pendiri NU, pengasuh serta pendiri Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang. Sedangkan ibundanya merupakan putri KH. Bisri syamsuri pendiri Pesantren Denayar, Jombang dan seorang tokoh terkemuka NU yang pernah menjadi Ra’is Aam PBNU menggantikan KH. Wahab Hasbullah. Tak ayal jika kecerdasan dan kekritisan berfikir mengalir deras di darah Gus Dur.

Gus Dur kecil mulai belajar pada KH. Hayim Asy’ari, ia belajar membaca Al-Qur’an dan mengaji pada sang kakek. Hingga dalam usia 5 tahun sudah lancar membaca Al-Qur’an. Pertumbuhan kian mulai kelihatan, usia Gus Dur juga semakin dewasa.

Pada tahun 1949 Gus Dur hijrah ke Jakarta dikarenakan ayahnya diangkat menjadi mentri agama RI yang pertama. Dari situlah ia mulai mengenal dunia politik yang didengar dari kolega ayahnya. Keseharian Gus Dur gemar membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi milik ayahnya. Tidak puas dengan itu, ia menjelajah ke pelbagai perpustakaan di Jakarta.

Pada usia belasan tahun, Gus Dur sudah akrab dengan berbagai buu dan novel. Tak hanya itu wacan filsafat dan dokumen – dokumen mancanegara sudah tak asing lagi baginya. Namun pada tanggal 19 april 1953 adalah hati na’as bagi Gus dur, ayahnya meninggal akibat kecelakaan mobil yang ditumpangi ayahnya dan anak ini. Namun gus dur dapat terselamatkan. Setalah peristiwa na’as itu terjadi, gus dur tetap menjadi pribadi yang kuat, usia yang semakin remaja dan dewasa itu merubah pola pemikiran gus du. Gur dur belajar formal gus dur les privat dengan seorang muallaf dari belanda untuk menambahkan pelajaran bahasa belanda dan pengetahuan tentang dunia barat. Inilah untuk kali pertama beliau mengenal dunia barat.

Menjelang lulus SD, dengan segudang pengalamannya, beliau berhasil memenangkan lomba karya tulis (mengarang) se-jakarta, tak pelak jika sejak saat itu tulisan – tulisan gus dur menghiasi berbagai media massa. Pendidikan beliau berlanjut pada 1954 di sekolah menengah pertama, namun suatu ketika Gus dur tidak naik kelas dan akhirnya Gus Dur dipindah di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) gowongan yang berkurikulum sekuler, sambil mondok di pesantren Krapyak, karena keinginannya kuat dan motivasi yang tinggi untuk menguasai bahasa inggris, Gus Dur mampu melahap habis buku-buku bahasa inggris hanya dalam waktu 1-2 tahun, selain itu beliau aktif mendengarkan siaran radio voice of Amerika dan BBC London untuk menambah wawasannya tentang bahasa asing tersebut. Setelah lulus SMEP Gus Dur melanjutkan studinya ke magelang di pesantren Tegalrejo, disinilah beliau mengenal ritus-ritus sufi dan akrab berziarah kemakam para wali, hanya berselang 2 tahun (seharusnya 4 tahun) beliau mampu menyelesaikan pendidikannya.

Di saat usia nya mendekati 20 tahun, beliau kembali ke pesantren tambak beras milik pamannya sendiri KH. Abdul Fatah sebagai seorang ustadz dan ketua keamanan, beliau juga berkarir sebagai wartawan Horizon dan majalah budaya. Lanjut pada usia 22 tahun Gus dur menuanikan ibadah Haji sepulang dari tanah suci beliau mendapatkan beasiswa untuk belajar ke mesir sekaligus dipinangkan pamannya dengan seorang gadis yaitu, Sinta Nuriyah binti H.M Syakur perkawinannya dilaksanakan di mesir. Namun karena kekritisannya, Gus Dur tidak menyelesaikan studinya dan pindah ke Universitas Baghdad pada tahun 1966 hingga beliau mendapat menghatamkan studinya 4 tahun kemudian.

Disnilah sumber spiritualitasnya berkembang pesat, diluar kampus Gus Dur sering mengunjungi makam – makam para wali termasuk makam Syekh abdul Qadir Al-Jailani. Beliau juga menggeluti ajaran imam Junaidi Al-Bagdadi, pendiri aliran tasawuf yang di ikuti jam’iyyah Nahdlatul Ulama di Indonesia. Dari bagdad Gus Dur melalang buana ke eropa untuk melanjutkan studinya dari satu Universitas ke Universitas lain, namun akhirnya beliau menetap di belanda selama 6 bulan. Tiap sebulan 2 kali beliau pergi kepelabuhan untuk bekerja sebagai pembersih tangker guna mencukupi kebutuhan kehidupannya. Pada tahun 1971 Gus dur kembali ke jakarta dan bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi Social (LP3ES).

Seorang Gus dur juga aktif sebagai penulis Koran Tempo dan kompas, reputasi sebagai komentator sosialpun mulai berkembang. Dengan popularitasnya, beliau banyak mendapatkan banyak undangan untuk memberikan kuliah dan seminar. Pada tahun 1974, Gus Dur mengepakkan sayapnya ke Jombang dengan mengajar di pesantren Tambak beras. Berselang 3 tahun kemudian beliau bergabung dengan Universitas Hasyim Asy’ari. Sebelumnya Gus dur menolak untuk berperan aktif menjalankan NU, meskipun akhirnya beliau tunduk dan mau setelah di bujuk oleh kakeknya sendiri, KH Bisri syamsuri.

Pada tahun 84-an Gus dur diangkat sebagai ketua umum PBNU, terpilihnya Gus Dur disambut positif oleh pemerintah karena citra Gus Dur yang moderat dan menerima pancasila sebagai ideologi bangsa. Selama masa jabatan pertamanya, Gus Dur mampu meningkatkan kualitas pesantren menandingi sekolah – sekolah umum. Gus Dur kembali terpilih dimasa jabatannya yang kedua. Karena kritikannya yang pedas terhadap pemerintahan, rezim pemerintahan menghalang-halangi dengan berbagai cara Gus Dur tidak terpilih lagi untuk yang ketiga kalinya, namun Gus Dur tetap terpilih sebagai ketua PBNU. Jabatan ketua umum PBNU kemudian dilepas, ketioka Gus Dur menjabat sebagai Presiden RI ke-4 dengan memperoleh 373 suara mengungguli rivalnya megawati dengan 313 suara.

Pada masa pemerintahannya, beliau mengedepankan demokrasi dan lebioh membela hak-hak minoritas. Walaupun sudah menjadi seorang presiden kenyelenegan-nyelenehan Gus Dur tidak hilang bahkan banyak membingungkan banyak orang, namun di balik kenyelenehan beliau terkandung maksud yang mendalam.

Predikat humoris juga melekat pada diri seorang Gus Dur, hingga Raja Saudi yang terkenal serius hampir tak pernah tertawapun mamou dibuat tertawa oleh Gus Dur. Begitu juga denga Presiden Kuba pun penasaran dengan kekocakan beliau, hingga suatu ketika keduanya bertemu dan berbincang-bincang “di indonesia itu terkenal fenomena gila” cetus Gus Dur, mendengar ungkapan seperti itu presiden kubapun terkejut “Presiden pertama gila wanita, Presiden kedua gila Harta, Presiden ketiga Gila Teknologi” kemudian beliau terdiam sejenak. Lalu presiden yang keempat” tanya Presiden Kuba yang penasaran, “ Ya…. yang gila yang milih” jawab Gus Dur santau, mendengar kekocakan Gus Dur Presiden Kubapun yterpingkal – pingkal tak kuasa menahan tawanya.

Dua tahun menjabat sebagai Presiden, perubahan besar di pemerintahan ternyata tidak disukai lawan politiknya, hingga muncul skandal bullogate dan brunelgate, yang kemudian menjatuhkan Gus Dur dari kursi Kepresidenan yang kemudian digantikan Oleh Megawati Soekarni Puteri, pada sidang MPR 23 Juli 2001. Pada saat pulang kampung dari istana, Gus dur sudah tidak menggunakan fasilitas kepresidenan lagi, hanya memakai kaos oblong dan celana pendek, bamu dari kenyelenehannya itu justru terkandung ]maksud yang mendalam.

Gus Dur mempunyai cita – cita yang tinggi untuk Indonesia, salah satu nya yaitu menjadikan Indonesia sebagai negara yang benar – benar demokrasi, dialah guru bangsa dengan kenyelenehan-kenyelenehannya yang membuat rakyat terpancing untuk berfikir kritis, hingga kedepannya bangsa Indonesia menjadi benar – benar demokratis. Perwatakannya yang humoris membuat suasana politik yang tegang dijadikannya lebih fresh dan fleksibel, namun perjuangan Gus Dur untuk menjadikan bangsa ini menjadi bansa yang cerdas dan bermatabat harus segera di teruskan oleh generasi penerus, sebab beliau harus pulang ke Rahmatullah, beliau wafat harui rabu 30 desember 2009 di rumah sakit cipto mangunkusumo Jakarta, pada pukul 18.45 akibat berbagai kompilasi penyakit, kemudian beliau diterbangkan ke Jombang untuk melanjutkan prosesi pemakaman beliau, juataan pelayat datang dan berbondong –bondong memberi penghormatan terakhir kepada beliau, tidak hanya dari warga muslim saja, namun warga non muslim juga ikut melayat, beliau dimakam kan di dekat makam kakeknya, KH Hasyim Asy’ari.

Sebelum meninggal beliau sempat berziarah kemakam – makam para wali di daerah jawa timur seakan akan memberi isyarat berpamitan kepada para wali. Hingga berminggu – minggu semenjak kepergian beliau, ucapan belasungkawa dan penghargaan nasional maupun internasional terus mengalir, menunjukkan betapa sakral sosok seorang KH. Abdurrahman Wahid.

(Mahasiswa Psikologi, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Aktivis Pena Pramodya Ananta Toer Anak Semua Bangsa)

Komentar

Silakan komentar