Gus Dur dalam Gelora Demokrasi Gus Dur dalam Gelora Demokrasi
Dibaca: 410 Oleh M Nafiul Haris Genap tujuh tahun KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) meninggalkan kita. Gus Dur meninggal pada 30 Desember 2009. Dalam... Gus Dur dalam Gelora Demokrasi

Oleh M Nafiul Haris

Genap tujuh tahun KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) meninggalkan kita. Gus Dur meninggal pada 30 Desember 2009. Dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU) dikenal istilah tradisi peringatan haul (peringatan wafat seseorang tiap tahun). Haul akan terasa dahsyat gemanya jika yang meninggal itu seorang tokoh kharismatik, ulama besar, pendiri sebuah pondok pesantren dan sejenisnya. Gus Dur adalah salah satunya.

Suatu hal yang tak terbantahkan di kalangan masyarakat Indonesia khususnya dan dunia umumnya bahwa hingga hari ini almarhum Gus Dur masih menjadi sosok dan tokoh bahan pembicaraan, terutama ihwal yang positif, baik sebelum menjadi presiden maupun sesudah menjadi presiden keempat Republik Indonesia.

Popularitas Gus Dur semasa hidup bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan darah biru kiai-kiai besar NU. Popularitas Gus Dur dibentuk melalui proses panjang. Ia pernah belajar menuntut ilmu dan berorganisasi di Mesir, Bagdad, dan beberapa bagian negara Eropa.

Di sejumlah negara tersebut, Gus Dur muda tekun mempelajari berbagai macam pengetahuan, baik yang lahir dari rahim (tradisi) Islam maupun Barat. Perjalanan pendidikan Gus Dur tersebut tentu ikut memberikan kontribusi dalam memopulerkan nama besarnya.

Gus Dur juga dikenal sebagai pembela sejati orang-orang tertindas, yang termarginalkan, di banyak sektor. Seperti Jemaah Ahmadiyah, Inul Daratista dan banyak aliran atau kelompok yang oleh kelompok-kelompok tertentu dinilai menghina Islam.

Islam era Gus Dur itu terhitung sejuk. Gus Dur melemparkan gagasan pergantian “assalamualaikum” dengan “selamat pagi” serta semangat “pribumisasi Islam”. Hingga Gus Dur menjadi presiden RI, dia konsisten dengan gagasan toleransi dan demokratisasi.

Gagasan toleransi dan demokratisasi itu tidak hanya dia kemukakan di dunia internasional. Masyarakat Indonesia sendiri mulai merasakannya sebagai suatu perkembangan positif yang justru dapat mendamaikan dan menyatukan bangsa.

Perjuangan

Dalam buku Beyond the Symbols (2000), Mudji Sutrisno, seorang budayawan, rohaniwan, dosen Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara dan Universitas Indonesia (UI), menyatakan bahwa ada dua obsesi yang selalu diperjuangkan Gus Dur.

Pertama, obsesi makro. Obsesi ini muncul bukan hanya karena dia anak atau cucu pendiri bangsa, melainkan karena Gus Dur memperjuangkan tiga hal. Tiga hal itu adalah, pertama, keutuhan bangsa agar tidak pecah. Pada posisi inilah Gus Dur sesungguhnya sosok yang selalu mengusahakan terbentuknya demokrasi, masyarakat pluralis yang saling menghormati, masyarakat lintas agama, lintas suku dan lintas golongan.

Kedua, dia selalu mau tampil sebagai pionir, guru bangsa, terutama saat terjadi krisis. Ketiga, dia selalu bisa mengambil posisi kunci (strategis) dalam setiap konflik.Kedua, obsesi mikro. Cita-cita besar ini berarti tidak hanya sebagai diri sejati Gus Dur, tetapi sebagai bagian dari keluarga besar NU. Sebagai warga NU, dia amat peduli dan prihatin terhadap peningkatan pendidikan, taraf hidup dan cara berpikir warganya.

Mereka yang dalam sejarahnya (historis) selalu diidentikkan sebagai kelompok ”sarungan”, di bawah pengelolaan Gus Dur diusahakan menjadi kelompok yang multidimensional, baik dalam sektor ekonomi, sosial, budaya dan lainnya.Kaum muda NU khususnya dan bangsa Indonesia umunya sangat berutang budi kepada Gus Dur. Banyak hal dalam pemikiran, sikap dan tindakan yang dia wariskan untuk negeri ini.

Pertama, semangat silaturahmi. Semangat silaturahmi ini sesunguhnya mampu menjembatani berbagai perbedaan hingga dapat kembali rukun dan kembali menyatu. Silaturahmi tidak berhenti pada tataran dogmatis agama atau berkutat dalam norma atau nilai-nilai adat istiadat, tapi menyatu dalam pranata dan komunikasi kebangsaan secara menyeluruh.

Kedua, menyebarkan Islam inklusif. Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin (mengayomi dan melindungi semesta alam) harus menjadi agama yang terbuka dan mampu berdialog dengan budaya lokal. Islam yang ditawarkan Gus Dur adalah Islam yang menghargai pluralitas dalam keberagaman, bukan Islam yang eksklusif yang merasa bahwa kelompoknyalah yang berhak atas surga Allah SWT.

Menghormati Tradisi

Gus Dur menyajikan Islam yang menghormati tradisi ijtihadi dan mengapresiasi budaya intelektual yang kritis dan dinamis dengan tetap berpegang kepada kaidah-kaidah yang berlaku. Gus Dur konsisten berpijak pada kaidah al muhaafadhatu ’alal qadiimish shaalih wal akhdu bil jadiidil ashlah, memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.

Ketiga, selera humor yang tinggi. Tradisi humor bagi Gus Dur melekat dan menjadi pelengkap hidup dalam kepribadiannya. Dalam kesempatan dan pembicaraan masalah-masalah apa pun selalu terdengar humor-humor segarnya. Sikap Gus Dur yang humoris ternyata mampu mencairkan situasi yang tegang, mempermudah sesuatu yang rumit, meringankan hal yang berat. Meskipun demikian, humor-humor yang ditunjukkan Gus Dur bukannya tanpa makna atau sekadar bercanda, ingat tentang masalah DPR, Gus Dur menyindir dengan sebutan Dewan Play Group.

Kiai Bangsa adalah salah satu predikat yang sangat layak dan perlu kita sematkan untuk Gus Dur. Sosoknya adalah kiai budaya, kiai politik, kiai kemanusiaan, kiai keberagaman, kiainya warga NU dan kiai bangsa yang merangkul semua golongan tanpa tedeng aling-aling atau sekat perbedaan.

Seorang tokoh Tionghoa mengakui akan jasa besar Gus Dur yang dengan tegas dan berani memulai langkah penting dalam berkehidupan bernegara di Indonesia. Langkah penting ini ditandai dengan upaya pengakuan agama Konghucu, penghapusan surat bukti kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) dan mencanangkan Imlek sebagai hari libur nasional.

Ketika Gus Dur wafat, Juru Bicara Gedung Putih Robert Gibbs, mewakili Presiden Amerika Serikat Barack Obama, mengatakan Gus Dur merupakan suri teladan bagi toleransi beragama dan figur penting dalam transisi demokrasi di Indonesia.

Gus Dur akan diingat atas komitmennya terhadap prinsip-prinsip demokrasi dan pandangan politik yang inklusif. Dia bekerja untuk perdamaian dan kemakmuran bagi rakyat Indonesia dan menjadi jembatan antarumat beragama.

Nafiul Haris, alumnus MA NU TBS Kudus 2010 dan pernah nyantri di PPRM Jagalan 62 Langgardalem Kudus

Komentar

Silakan komentar