Dahsyatnya Detektor Barang Haram yang Dimiliki Syeikh Abul Uyun Dahsyatnya Detektor Barang Haram yang Dimiliki Syeikh Abul Uyun
Dibaca: 619 SANTRIMENARA.COM – KUDUS. Ini adalah kisah faktual yang terekam dalam kitab kuning dan cerita nyata lengkap dengan saksi. Ditulis redaksi Santrimenara.com dari... Dahsyatnya Detektor Barang Haram yang Dimiliki Syeikh Abul Uyun

SANTRIMENARA.COM – KUDUS. Ini adalah kisah faktual yang terekam dalam kitab kuning dan cerita nyata lengkap dengan saksi. Ditulis redaksi Santrimenara.com dari penuturan KH Abdul Qoyyum (Gus Qoyyum) saat menyampaikan pesan ketiga tentang makna Al-Quran, Surat Thoha ayat 111, yang berbunyi: وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا (Sungguh merugi orang yang dholim atas dirinya), di Gedung PAUD Madrasah TBS Kudus dalam rangka Harlah TBS ke 92, Jumat (02/03/2018) malam.

Kisah pertama, tertulis dalam Nahjul Balaghoh (kitab syi’i), syarah kitabnya ada 20 jilid. tertulis kisah seorang syaraifah (keturunan Nabi, perempuan), tidak sengaja sedang di berada pintu rumah. Tanpa disadari, saat ia di pintu tersebut, ternyata ada seorang laki-laki bukan mahrom dan bukan saudara yang melihat keindahan rambutnya karena kebetulan ia tidak berkerudung.

Seketika ia masuk rumah. Pintu ditutup rapat, dan kemudian seluruh rambutnya dicukur pelonthos. Ia melakukan itu karena sangat menyesal telah memperlihatkan auratnya kepada orang lain, padahal hanya rambut.

Syarifah tersebut adalah contoh betapa keturunan Nabi Muhammad SAW sangat menjaga diri agar tidak mendholimi dirinya sendiri. Apalagi kontes kecantikan yang begitu liberalnya, orang dulu tidak akan mau. Itu sangat mendholimi diri sendiri, tidak menjaga kehormatan sebagai perempuan.

Kisah kedua, ada dalam karya Mbah Fadhol Senori Tuban berjudul Ahlal Musamarah fi Hayati Auliya’il ‘Asyarah. Versi kitab tersebut, Raden Fattah bukan putra Sunan Ampel, tapi muridnya. Ceritanya, saat akan boyong dari studi (mondok), Sunan Ampel berpesan kepada Raden Fattah agar mencari bambu yang baunya wangi di daerah Bintoro.

Kalau sudah menemukan bambu yang berbau wangi tersebut, Sunan Ampel meminta Raden Fattah agar menetap di sekitar bambu tersebut. Bersama sang istri, Raden Fattah mencari bambu. Lama. Di hutan bambu itu, tiap bambu didhemak-dhemik (dicek tangan, dicium baunya), sampai menemukan yang wangi.

Begitu ketemu, daerah Bintoro akhirnya disebut Demak, berasal dari ndhemak-ndhemik pring (mengusap-ngusap bambu). Ternyata, daerah sekitar bambu yang bau wangi itu adalah lingkungan yang akhlaknya baik, masyarakatnya ramah alias wangi. Kultur wangi itulah yang membuat Raden Fattah diterima dengan baik hingga menjadi sultan di Demak.

Dalam kisah di atas, Mbah Sunan Ampel adalah sosok guru yang tidak mau mendholimi muridnya. Begitu pula Raden Fattah yang taat kepada guru, tidak mau mendholimi dirinya hingga akhirnya, berkah taat guru, ia menjadi sukses.

Mendoakan jelek kepada murid atau mahasiwanya, itu merupakan tindakan mendholimi diri sendiri dan lingkungan sang murid. Meskipun murid pernah membuat hati sang guru sakit, seyogyanya, sebagai guru tetap mendoakan yang baik. Itu tidak akan masuk dalam firman Allah SWT وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا.

Ada, betul ada santri yang kadang berbuat dholim kepada kiainya. Ia bersedekah tapi barang yang disedekahkan kepada kiai tidak halal. Nama kiai itu adalah Syeikh Abul Uyun, mukim di Mesir. Ceritanya, ada seorang laki-laki datang bertamu sambil membawa banyak mangga.

Tanpa banyak tanya, Syeikh Abul Uyun langsung “menuduh” mangga laki-laki itu haram. Padahal, tidak ada mangga yang haram sejak tumbuh. Syeikh Muhammad bin Alwi (Makkah) yang waktu itu juga bertamu dan menyaksikan, lumayan kaget dan menanyakan alasannya kepada syeikh.

Mangga itu akhirnya didekati oleh Syeikh Abul Uyun. Tangan mulianya menyentuh buah itu. Entah dari mana muncul, tangan mulia syeikh tiba-tiba ada air yang “mancur” mengalir. Ini adalah anugerah detektor yang diberikan Allah SWT kepada Syeikh Abul Uyun untuk mengetahui sejak dini agar jangan sampai tubuhnya dimasuki makanan dan minuman haram.

KPK, kiai kelas syuriah NU saja tidak memiliki alat detektor canggih barang haram semacam Syeikh Abul Uyun. Sungguh, kejadian ini disaksikan oleh Syeikh Muhammad bin Alwi, ulama Haramain yang kebetulan sedang bertamu.

Bagaimana dengan laki-laki itu? Melihat keramat Syeikh Abul Uyun, akhirnya dia mengakui kalau mangga yang diantarkannya itu dia ambil dari tetangga rumah yang tiap panen tidak pernah menyilakannya mencicipi.

Merasa didholimi, mangga itu akhirnya dicuri semuanya. Tapi saat mencuri itu, ia ingat sang kiai. Akhirnya, buah mangga curian itu diberikan semua kepada Kiai Abul Uyun. Ini namanya mendholimi kiai. Untung Syeikh Abul Uyun punya alat deteksi canggih keharaman barang.

Ada pula kisah yang menimpa Gus Qoyyum. Suatu kali, ia pernah diberi banyak udang oleh orang lain, yang tidak punya tambak udang, tapi bisa menyedekahkan udang begitu banyak. Setelah dicek, ternyata barang itu hasil tumpahan truk muat udang yang terguling di jalan. Gus Qoyyum menyebut kejadian yang menimpanya itu sebagai “haram muntahal jumu’/haram berlipat, bertingkat dan mentok”.

Saking menjaga diri dari mendholimi diri sendiri, terutama dari akses hal-hal haram, banyak ulama zaman dahulu yang memilih hidup sederhana. Biar rejekinya tidak mendholimi orang lain, ada ulama dengan puluhan jilid karnya, tapi berprofesi sebagai tukang jahit, pedagang buah, seperti Al Qaffal, Al Baladuri (pengarang Futuhul Buldan), dan lainnya. Tidak seperti ustadz sekarang, yang mudah sekali membuat biro jasa umroh.

Untuk menjadi santri yang barokah ilmunya, hendaknya jangan berguru kepada orang yang suka mendholimi kepada dirinya, apalagi biasa mendholimi orang lain, atau “mbodhoni” (membohongi)  santrinya. (smc-212)

Komentar

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Silakan komentar