Beragama dengan Otak Kosong (1), Orang Bersorban vs Polisi “Thaghut” Beragama dengan Otak Kosong (1), Orang Bersorban vs Polisi “Thaghut”
Dibaca: 702 Oleh Yanuar Aris Budiarto SANTRIMENARA.COM, ESAI BERSERI (1) – Menurut Syekh Google, lalu lintas adalah kegiatan lalu-lalang atau gerak kendaraan, orang, atau... Beragama dengan Otak Kosong (1), Orang Bersorban vs Polisi “Thaghut”

Oleh Yanuar Aris Budiarto

SANTRIMENARA.COM, ESAI BERSERI (1) – Menurut Syekh Google, lalu lintas adalah kegiatan lalu-lalang atau gerak kendaraan, orang, atau hewan di jalanan. Masalah yang dihadapi dalam perlalulintasan adalah keseimbangan antara kapasitas jalan dengan volume kendaraan dan orang yang melintas.

Selain kelancaran, masalah lain dalam lalu lintas yang sering dikeluhkan adalah tingkat kenyamanan dan keamanan pengguna jalan. Artinya, sebagai pengguna jalan, kita memilik hak dan kewajiban dalam berlalu-lintas. Sebagai masyarakat, kita punya hak untuk nyaman dan kewajiban untuk mematuhi aturan. Sebagaimana muslim diajarkan  al muslimuuna ala syurutihim, orang-orang muslim yang baik harus mematuhi syarat dan ketentuan yang berlaku.

Hal ini mungkin bisa koheren dengan tragedi di lalu lintas yang pernah terjadi di Indonesia beberapa tahun silam. Suatu ketika polisi menghentikan seorang bapak pengendara motor yang tidak memakai helm. Bapak tersebut bersurban mengenakan rida’ di bahunya. Pakaiannya serba putih khas wali.

Tidak sulit untuk mendefinisikan jenis orang macam apa bapak tersebut, pastinya orang yang beragama kuat. Bahkan orang awam bodoh pun akan langsung mudah mendeskripsikan, bahwa bapak dengan pakaian yang saya jelaskan tadi pastinya adalah seorang kai, pemuka agama, minimal seorang ustadz lah.

Peluit sudah berbunyi, laju motor berhenti, dan bisa ditebak polisi pasti akan menyapa dengan ramah dan meminta ijin untuk mengecek SIM dan STNK. “Selamat siang bapak, boleh saya lihat SIM dan STNK nya?”  sapa petugas. “Tidak..!!” tolak bapak bersorban itu, “sebutkan kesalahan saya,” lanjut bapak tersebut dengan nada menantang.

Dengan percayaan diri, petugas kepolisian menjelaskan bahwa sesuai undang-undang yang berlaku kesalahan pak ustadz tersebut adalah berkendara motor namun tidak memakai helm.

Ustadz tersebut melotot, “heh, ndak pakai helm itu bukan suatu larangan dalam agama saya! Agama saya tidak mewajibkannya,” bantahnya.

Dalam video yang banyak beredar di Youtube berjudul “Kyai Marah Saat Ditilang Polisi” itu dialog tidak banyak berlanjut kecuali umpatan dan tantangan bapak bersorban kepada aparat keamanan. Polisi memilih untuk melepasnya, namun pihak polisi mencatat kelakuan orang berpenampilan kiai tersebut dan menjeratnya dengan pasal berlapis, 1) melanggar lalu-lintas dan 2) melawan petugas kepolisian.

Setelah ‘kiai’ tersebut dipanggil untuk dimintai keterangan di kantor kepolisian, akhirnya bapak itu meminta maaf atas kesalahannya. Tidak dijelaskan bagaimana jalannya penyidikan, tapi imajinasi saya menjadi liar. Saya membayangkan dialog antara polisi dan bapak berbaju ala kiai itu.

“Bisa dijelaskan apa maksud bapak, atas pernyataan “Agama saya tidak mewajibkan helm,” tanya Polisi memancing penjelasan.

“Rasulullah itu ndak pakai helm, pak… jadi jangan paksa saya untuk melakukan sesuatu yang tidak dikerjakan oleh beliau,” jawab ‘ustadz atau kiai tersebut.

“Owhh.. begitu..  Pak ustadz yang saya hormati, sejauh yang saya tahu Rasulullah juga tidak mengendarai sepeda motor, lalu kenapa ustadz memakai motor?” sergah polisi.

Ustadz tersebut diam seperti kehabisan kata-kata, “lagi pula, jika di zaman Rasulullah sudah ada motor, saya yakin Rasulullah akan menggunakannya,” lanjut petugas itu.

Setelah lama membisu, bapak bersorban tadi menukas, “saya orang Islam, saya tidak mau mengikuti undang-undang dari sistem toghut, sistem kafir.

“Bapak dengan mudahnya melanggar apapun yang anda benci, meskipun itu jelas baik untuk diri sendiri. Dan menghalalkan apapun yang Anda yakini seakan-akan itu adalah yang paling bena. Apakah Rasulullah seperti itu?”

Lelaki tua bersorban itu mengalihkan pembicaraan, “surat-surat saya lengkap. Ada SIM dan STNK masih berlaku. Saya hanya ingin pergi dari rumah ke majelis taklim di sana, tidak jauh,” kilahnya, “jadi saya tidak memakai helm, karena saya sudah cukup aman,” tambahnya.

Polisi itu telah mendapati jenis orang beragama macam apa yang ada di depannya itu. Belajar agama tapi tidak mempelajari isi ajaran agamanya, belajar hadits tapi tidak isinya, melainkan hanya makna dari bungkusnya saja.

Ma laa yatimmul wajib illa bihi fahuwa waajibun. Jika ada sebuah perkara wajib dimana ada sebuah ketidakwajiban yang tidak dilakukan bisa berakibat perkara tadi tidak sempurna, maka perkara yang tidak wajib tadi ikut menjadi wajib. Itu saja hal yang tidak wajib, apalagi jika sudah sama-sama wajib semua, jelas semuanya merupakan syarat yang harus dipenuhi, dijalani.

“Baiklah. Hari ini saya tidak mengkuhum bapak, anggaplah nasehat saya tadi adalah ‘surat sidang’ saya untuk bapak bawa di hadapan Tuhan kelak. Biar bapak saksikan sendiri, ada di pihak mana Tuhan memberi denda, bahwa melindungi diri dari kemungkinan mudarat  juga sebuah kewajiban yang harus dipenuhi,” polisi mempersilahkan lelaki tua bersorban itu keluar ruangan.

Masyarakat bisa menilai, dari manakah ajaran agama bisa dipetik. Apakah dari orang bersorban atau dari petugas kepolisian? Agama bukanlah dibentuk dengan simbol-simbol tertentu, tapi agama dibentuk untuk membina perilaku.

Ajaran agama bukanlah dimaknai dengan berpeci, sorban yang melingkar di kepala, dengan jidat hitam di dahi. Sekali lagi, beragama dengan otak kosong adalah zonk! Bahkan dalam suatu riwayat hadits pun dijelaskan bahwa setan lebih takut orang alim yang tidur daripada seribu orang yang sedang shalat.

Alimun wahidun khoirun min alfi abidin adalah istilah yg sering saya dengar kala saya ngudi ilmu di madrasah dan di pesantren. Terjemahan bebasnya adalah, satu orang yang berilmu jauh lebih baik daripada seribu ahli ibadah yang tidak berilmu. Saya mengimani dan mengamini quote tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Ta’limul Muta’allim. Wallahu A’lam. (edited-212)

Yanuar Aris Budiarto, bukan pemuka agama, apalagi ulama, cuma santri biasa.

Komentar

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Silakan komentar